Tampilkan postingan dengan label Berita Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Nasional. Tampilkan semua postingan

Mantan Anggota NII: Korban Cuci Otak Bisa Gila!

Wartaislam.com - Pelaku cuci otak mampu membuat korbannya menderita. Bila tidak segera dipulihkan, korban cuci otak mengalami depresi berkepanjangan. Bahkan tidak sedikit jiwanya terganggu.

"Kalau kelompok NII gadungan, rata-rata korbannya depresi usai berhasil keluar dari kelompok. Bisa gila!" ujar Adnan Fahrullah (40), mantan pencuci otak yang pernah gabung NII KW 9 sejak 1989 hingga 2004. Adnan ditemui wartawan di sebuah tempat di Kota Bandung, Kamis (21/4/2011).

"Yang menyebabkan korban depresi itu karena di bawah ancaman. Lalu ditargetkan pimpinannya mencari uang serta wajib menyetor. Ancamannya memang dibunuh, tapi semua itu gertakan saja. Soalnya tidak ada yang pernah dibunuh karena keluar dari NII. Kalau hanya didatangi ke rumah sih memang benar," ujarnya.

Setelah berhasil keluar dari kelompok NII dan menyatakan tobat, penderitaan mereka masih membekas. Apalagi, kata Adnan, mantan-mantan NII yang keluar itu bingung karena tidak punya penghasilan tetap. Sebab, dahulunya saat masuk NII, para korban itu meninggalkan pekerjaannya.

"Butuh dua hingga tiga tahun untuk memulihkan para cuci otak ala NII gadungan itu. Ada dengan pendekatan keislaman dengan benar dan cara lainnya," papar Adnan.

Berbeda cuci otak yang dilakukan NII sempalan. Menurut dia, para pelakunya memang mantan NII KW 9 yang membentuk kelompok lain. Cara cuci otak NII sempalan ini ada menggunakan gaya saat dahulu jadi anggota. Intinya pola kerjanya sama dengan gaya NII KW 9 merekrut korban.

"Tapi perkembangannya kini, NII sempalan menggunakan cara hipnotis," ungkap Adnan.

Meski begitu, sambung pris berkumis ini, cuci otak yang selama ini dilakukan NII sempalan tidak berbahaya. Sebab, NII sempalan hanya bersifat sementara. Motifnya kriminal dengan alasan impitan ekonomi.

"Korban cuci otak dari NII sempalan ini tidak terlalu berbahaya. Para korbanya paling hanya lupa ingatan dalam waktu yang tidak panjang. Ya, paling seminggu dan langsung pulih," jelasnya. (dtk)

Garis: Bom Cirebon Erat Kaitan dengan Upaya Pembusukan Umat Islam

Wartaislam.com - Kasus bom yang meledak di masjid Ad Dzikro Mapolresta Cirebon beberapa waktu lalu akhirnya menyudutkan kepada salah satu gerakan Islam tertentu. Hal ini sudah diduga oleh banyak pihak.

PP Gerakan Reformis Islam (GARIS) dalam press releasenya yang diterima wartaislam mensiyalir bahwa pengeboman tersebut  erat kaitannya dengan operasi intelijen untuk pembusukan Islam.

Upaya ini dilakukan untuk mengadu domba antara polisi dengan umat Islam. Oleh karena itu, H. Chep Hernawan ketua Garis menyerukan kepada seluruh komponen umat Islam untuk merapatkan barisan dan waspada terhadap upaya-upaya adu domba diantara umat Islam.


Garis sendiri menyatakan simpati yang mendalam kepada para jamaah yang menjadi korban baik dari masyarakat umum maupun anggota kepolisian. Garis menilai pengeboman di Mesjid dan saat akan dimulainya shalat adalah perbuatan biadab dan menyerang simbol serta ajaran Islam.

Serta Garis menegaskan bahwa pelaku berikut aktor intelektual yang ada di belakangnya adalah orang yang tidak faham fiqih jihad, sebab dalam fiqhih jihad sama sekali tidak dibenarkan melakukan penyerangan teradap rumah ibadah, apalagi mesjid.***(WI-003)
foto : H. Chep Hernawan

HTI Menilai Kelompok NII Rekayasa Intelijen

Wartaislam.com - Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jawa Barat menilai gerakan kelompok Negara Islam Indonesia (NII) merupakan rekayasa intelijen. HTI Jabar meragukan saat ini ada gerakan NII.

"Betul enggak itu NII. Harus diusut lebih dalam lagi. Kami khawatir adanya gerakan NII ini hanya upaya intel untuk diskreditkan Islam," ujar Humas HTI Jabar Luthfi Afandi.

Luthfi mengungkapkan hal tersebut di sela aksi ratusan massa HTI Jabar soal penolakan segala bentuk tindak kekerasan, di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, Kamis(21/4/2011).

Terkait aksi penculikan mahasiswa yang dituding pelakunya kelompok NII, dia meminta masyarakat jangan langsung meyimpulkan semua itu tindakan pengikut NII. "Kami memang menolak NII. Tetapi publik seringkali mengeneralisir. Nah, perlu didalami ada apa di balik gerakan NII itu," tutup Luthfi. (dtk)

NII Dinilai Rekayasa Rezim Pemerintah Berkuasa dan Bukan Gerakan Islam

Wartaislam.com - Fenomena cuci otak (brain wash) kembali menjadi perhatian publik, menyusul hilangnya sejumlah orang yang diduga menjadi korbannya. Ada dugaan, isu yang mengusung pendirian Negara Islam Indonesia (NII) merupakan bagian politik rezim yang berkuasa.

"Yang pasti, cuci otak NII bukan merupakan gerakan Islam. NII itu gerakan politik yang ujung-ujungnya pada kekuasaan," kata Pembantu Rektor II IAIN Sunan Ampel, Surabaya Prof Dr. Abdul A’la, Surabaya, Kamis, 21 April 2011.

Dikatakan Abdul A'la, isu global tersebut sengaja digulirkan dengan skenario metode cuci otak. Padahal, doktrin NII dengan cuci otak sangat tidak sesuai dengan ajaran Islam. Terkait itu, pemerintah diminta lebih tegas menyikapi persoalan yang terus bergulir dan sudah menggunakan simbol agama ini.

"Pemerintah menurut saya memang tidak tegas," lanjut lelaki yang menghabiskan studi S3-nya di UIN Jakarta, jurusan Teologi Islam itu.

Lebih jauh Abdul A'la menguraikan, simultan yang dimasukkan dalam model rekrutmen anggota tidak jauh beda dengan gerakan NII yang pernah tumbuh sebelumnya pada tahun 1991-an silam. Ketidaktegasan pemerintah tersebut terlihat dari proses pembiaran yang terus menggelinding pada proses cuci otak tersebut.

"Kalau kita tilik, sebenarnya ada tarik ulur antar kepentingan politik rezim penguasa saat ini. Metode ini memiliki korelasi dengan perjuangan Kahar Muzakar, Kartosuwiryo," urainya.

Pemikiran tersebut, tidak jauh beda dengan paparan yang disampaikan aktifis Islam, Zulqornaen. Lelaki berjenggot ini mengatakan, program cuci otak merupakan konsep dalam skenario besar pemerintah.

Zulqornaen malah menduga itu adanya campur tangan Badan Intelijen Negara (BIN) dalam proses doktrinisasi tersebut.

"Tidak ada yang tidak terkonsep dalam sebuah tujuan. Dan, model seperti ini (cuci otak) tidak lepas dari sebuah pekerjaan intelijen. Dan, tujuan cuci otak sangat beragam," ungkap Zulqornaen.

Zul mengingatkan, sebenarnya secara institusi, NII sudah tidak lagi ada di bumi Indonesia. Namun, secara ideologi, masih ada pengikut dan pelaku yang memang menginginkan adanya perubahan dalam status negara berdasarkan syariat Islam.

"Yang paling ditakutkan adalah, NII ini akan bermetafora dan menjadi sebuah jaringan mengakar ke Al Qaidah. Dan itu akan terjadi jika tidak segera dilakukan antisipasi dini," tegas Zul.

Dia kemudian menyarankan, perlu ada pemahaman secara kaffah dalam mempelajari sebuah ajaran, khususnya Islam. Selain itu, butuh kecermatan dalam memahami substansi dari modus cuci otak.

Disebutkan, yang patut disoroti adalah doktrin yang berbalut agama. Karena untuk bisa memahami sebuah ajaran dibutuhkan waktu yang tidak sedikit apalagi untuk memahami pokok dasar beragama.

"Yang ini lain, cuci otak ini sifatnya instan untuk bisa mengendalikan pengikutnya," katanya.

Dan, tips yang bisa dipakai menangkal cuci otak adalah dengan mencermati penyamaran cuci otak bermodus agama. Hal lain yang harus diketahui adalah tentang realita objektif termasuk memahami Islam secara benar. (vivanews)

GARIS Tuntut Pembebasan Antasari Azhar

Wartaislam.com - Gerakan Reformis Islam (GARIS) menuntut dibebaskannya mantan Ketua KPK Antasari Azhar yang sedang menjalani hukumannya di lembaga pemasyarakatan. GARIS berkeyakinan kasus yang menimpa Antasari Azhar tersebut merupakan rekayasa yang diciptakan pihak tertentu.

"Kami meminta pak Antasari dibebaskan, dari berbagai macam tuduhan," kata Yusuf Supriyanto, Koordintor Aksi GARIS.

Yusuf berpendapat, rekayasa yang dialami Antasari tampak sekali pada alat bukti pembunuhan yang berbeda dengan pengakuan tersangka eksekutor pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.

"Pistol yang digunakan tersangka kan macet, bagaimana mungkin korban tetap tertembak," ujar Yusuf di sela-sela aksi dukungan pembebasan Antasari Azhar di Bundaran Hotel Indonesia, Jl. MH.Thamrin, Jakarta, Rabu Sore(20/4).

Tambah Yusuf, GARIS berkepentingan sekali untuk membela Antashari Azhar, karena GARIS tidak bisa melihat ketidakadilan terjadi di Indonesia. Untuk itu GARIS akan menjadi pionir bagi ormas Islam untuk mendukung pembebasan Antasari Azhar.

"Dimulai dari GARIS, kami akan mengajak ormas Islam lainnya bergabung dalam gerakan ini," katanya.

Lebih dari itu GARIS berkomitmen untuk terus berada dalam garda terdepan untuk menuntut pembebasan Antasari Azhar, agar kasus-kasus lain bisa terungkap.

"Kita akan mengawal kasus ini, agar keadilan bisa terwujud di Indonesia," tandas Yusuf.

Selain GARIS, aksi menuntut pembebasan Antasari Azhar diikuti pula oleh puluhan ormas yang beraliansi dalam Gerakan Rakyat untuk Keadilan Antasari Azhar-Indonesia (GERAKAN INDONESIA). Aksi ini juga diikuti oleh politisi Gerindra Permadi, serta keluarga dari Anatasari Azhar dan keluarga dari korban pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen. (hidayatullah)

Tiga Perusak Aset Ahmadiyah Divonis

Wartaislam.com - Sidang kasus perusakan terhadap aset milik Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang terletak di Kampung Cisalada, Desa Ciampea Udik, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, tuntas hari ini Rabu/13 April.

Akbar Amanda, Dede Novi, dan Aldi, ketiganya warga Kampung Pasar Salasa, dinyatakan bersalah  melakukan perusakan oleh pengadilan.

"Terdakwa dinyatakan bersalah sama seperti tuntutan jaksa. Tapi hukuman yang dijatuhi terhadap terdakwa turun atau lebih ringan dari tuntutan," kata Ketua Majelis Hakim Astriwati, di Pengadilan Negeri Cibinong, Bogor, Rabu 13 April 2011.

Majelis hakim menyatakan bersalah dan menjatuhkan hukuman enam bulan penjara kepada Dede Novi dan Aldi, dengan masa percobaan satu tahun. Vonis tersebut lebih ringan empat bulan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum yakni 10 bulan penjara dengan masa percobaan satu tahun.

Sedangkan Akbar Amanda, karena masih di bawah umur akhirnya majelis hakim hanya menjatuhi hukuman empat bulan penjara dengan masa percobaan satu tahun. Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan yakni lima bulan penjara dengan masa hukuman satu tahun.

Astriwati menuturkan, hukuman terhadap ketiganya lebih ringan karena selama persidangan ketiganya berkelakuan baik dan sopan. Selain itu, ketiganya juga masih muda dan belum pernah dihukum atau tersangkut kasus hukum.

Lebih lanjut, ia mengatakan, berdasarkan keterangan-keterangan dari saksi cukup meringankan, karena saat peristiwa itu terjadi, para saksi tidak melihat secara pasti apakah pelaku perusakan adalah terdakwa. Sebab, peristiwa penyerangan dan perusakan terjadi kondisi gelap alias mati lampu.

Di saat Majelis Hakim mengetuk palu, Dede Novi dan Aldi, kompak bersujud di hadapan majelis hakim. Sementara itu, San Alauddin, kuasa hukum Dede Novi, Aldi, dan Akbar menyatakan pihaknya menimbang-nimbang untuk banding. (vivanews)

Mursalin Dahlan, Jangan Jadikan UU Intelejen untuk Membidik Aktivis Islam

Wartaislam.com - Bom yang mengguncang mapolresta Cirebon masih terngiang di telinga mayarakat. Beberapa pengamat politik banyak berspekulasi. Semisal Ketua Badan Pekerja Kontras Usman Hamid dan pengamat politik Yudi Latif mencurigai adanya agenda terselubung untuk mempercepat dan meloloskan RUU Intelejen.

Sehubungan dengan RUU Intelejen ini, Ustad Mursalin Dahlan, aktivis Islam yang telah lama dakwah di tanah air, mengingatkan aktivis Islam agar berhati-hati. Ia melihat selama ini tampak tercium kaum Islamfobia sedang membidik aktivis Islam.

Berdasarkan pengalamannya, ia sering masuk penjara karena selalu bertentangan dengan Pemerintah. Berulangkali dia menolak hal-hal yang bertentangan dengan Islam seperti Azas Tunggal, UU Perkawinan, Sidang Gereja Dunia.

Bahkan karena kekritisannya ia pun sempat dituding terlibat Pemboman Candi Borobudur padahal yang melakukannya itu adalah anak buahnya. “Saya tidak terlibat tetapi akhirnya justeru dikait-kaitkan,” terangnya kepada wartaislam.com baru-baru ini.

Makanya tatkala ada penggodokan RUU Intelijen di DPR ia berharap nantinya UU itu tidak menjadi alat penguasa untuk menggebuk atau menghalangi gerakan para aktivis islam yang berdakwah. Itu sangat jelas dialaminya karena pada saat Orba ia selalu dihalang-halangi dan diawasi dalam berdakwah.

“UU Intelijen itu perlu untuk keamanan negara dari gangguan pihak luar, tapi jangan sampai digunakan untuk melegalkan kekuasaan yang ada. Saya ingatkan kepada Pemerintah, jika apa yang dilakukan Orba diikuti maka tunggulah kehancuran Pemerintah. Waktu oral dan orba pun terjadi karena intelijen justeru digunakan untuk menakut-nakuti umat islam,” tegasnya.

Pada kesempatan lain, Mursalin Dahlan berharap aparat pun jangan selalu jika terjadi terorisme langsung diarahkan kepada gerakan Islam, sebab belum tentu pelaku Bom di Cirebon itu adalah aktivis Islam, dan melakukan pemboman di mesjid sangat dilarang oleh ajaran Islam.

Untuk menghadapi ini umat islam harus bersatu dan jangan selalu terpecah. Perpecahan akan mudah dimanfaatkan oleh lawan. Pemerintah sendiri harus segera memberantas korupsi karena itu penyakit bangsa ini dan biasanya Pemerintah yang korup di negara manapun akan selalu melemahkan lawannya yang berani mengoreksi kesalahannya. Karena Islam yang kritis maka Islamlah yang diserang. Pungkasnya.*** (WI-003)

Ada Pria Ngaku Nabi, MUI Turun Tangan

Wartaislam.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) cabang Kabupaten Kediri tidak ingin masalah kemunculannya seorang pria berinisial SFD (42), asal Desa Sentoyo, Kecamatan Plemahan yang mengaku sebagai nabi berlarut-larut. MUI akan segera mengambil sikap.

"MUI akan segera melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Mungkin besok kita langsung ke lapangan," kata Sekretaris MUI Cabang Kabupaten Kediri Hamam Tantowi kepada beritajatim.com, Senin (18/4/2011).

Semakin cepat tindakan MUI, imbuh Hamam, maka keresahan yang terjadi di masyarakat dapat segera diminimalisir. Dia juga tidak ingin timbul ketegangan di masyarakat.

Disinggung mengenai, banyak orang yang sudah menjadi pengikut dan mempercayai SFD, Hamam mengaku, pihaknya akan melakukan penjelasan, dan penyadaran. MUI tidak akan tinggal diam mengatasi persoalan itu.

Seperti diberitakan, SFD mengaku sebagai nabi dan memiliki misi menyampaikan wahyu. Perintah dari Tuhan itu diterimanya saat SFD dalam kondisi kerasukan.(beritajatim)

FPI Segel Masjid Ahmadiyah di Pekanbaru

Wartaislam.com - Belasan orang yang tergabung dalam Front Pembela Islam (FPI) dan Laskar Pembela Islam (LPI) melakukan aksi penyegelan masjid jamaah Ahmadiyah yang terletak di Jalan Sudirman, Gang Ahmadi, Pekanbaru, Selasa.

Aksi penyegelan itu dilakukan dengan memaku daun pintu masuk mesjid yang di cat minyak putih menggunakan palu, dan kemudian memasang spanduk di depan pintu masuk masjid tanpa mendapatkan perlawanan sedikitpun dari jemaat Ahmadiyah setempat.

Koordinator FPI Pekanbaru, Feli Rizieq menyatakan, aksi yang mereka lakukan itu sebagai reaksi penolakan umat Islam terhadap terhadap kegiatan Ahmadiyah yang masih menjalankan aktifitas beribadah yang telah menyimpang dari ajaran Islam.

"Kami didukung seluruh umat Islam bukan hanya FPI saja, karena Ahmadiyah telah menyimpang dari Islam. Apa yang kami lakukan ini adalah kerja umat Islam, hanya saja FPI di depan sebagai koordinator dan siap berhadapan dengan siapa saja termasuk hukum," jelasnya.

Mereka juga menyayangkan sikap Gubernur Riau Rusli Zainal yang masih bersikap plin-plan karena belum terbitnya peraturan gubernur mengenai larangan kegiatan jamaah Ahmadiyah yang menunggu hingga pilkada Kota Pekanbaru digelar.

Padahal, sebelumnya sebanyak 30 organisasi masyarakat (ormas) Islam yang ada di Riau termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) provinsi itu mendesak gubernur untuk segera menerbitkan surat keputusan larangan terhadap ajaran Ahmadiyah.

"Hingga kini gubernur Riau belum mengambil sikap, oleh karena itu mulai hari ini dan seterusnya kami minta tidak ada lagi kegiatan di masjid Ahmadiyah ini. Makanya masjid ini kami segel," jelas Rizieq.

Selama melakukan aksinya itu, massa FPI mendapat pengawalan ketat aparat kepolisian dari Polresta Pekanbaru.

Sebelum masjid Ahmadiyah didatangi FPI, aparatur dari Pemerintah Kota Pekanbaru telah turun ke lokasi terlebih dahulu dan membujuk tokoh Ahamadiyah setempat untuk menghentikan semua kegiatan dari ajaran itu.

Daud, tokoh Ahmadiyah setempat mengaku hingga kini jemaat yang ada masih menjalankan aktifitas seperti biasa diantaranya belajar mengaji, bersekolah, dan beribadah.

"Sesuai dengan SKB (Surat Keputusan Bersama) tiga menteri, kami tidak menyebarkan ajaran agama kepada yang bukan anggota kami," jelasnya.

Indonesia-Ethiopia Laksanakan Dialog Antaragama

Wartaislam.com - Pemerintah Indonesia dan Ethiopia mengadakan dialog antaragama untuk meningkatkan hubungan bilateral kedua negara, terutama dalam kehidupan antarumat beragama.

"Ethiopia merupakan negara yang terdiri atas beragam suku dan agama, yang kini makin berkembang pesat. Sehingga kita dapat saling berbagi pengalaman tentang kehidupan antarumat beragama," kata Sekjen International Conference for Islamic Scholars (ICIS) Hasyim Muzadi di Jakarta, Selasa.

Ia menegaskan, dengan keberagaman yang dimiliki kedua negara tersebut, maka kedua pihak dapat saling belajar sekaligus bekerja sama dalam menciptakan perdamaian di dalam dan luar negeri.

Dialog tersebut akan memfokuskan diri pada pengalaman Indonesia dan Ethiopia dalam mengatur keberagaman budaya dan agama di masing-masing negara dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis, peran para pemuka agama dalam mempromosikan perdamaian serta upaya peningkatan kerja sama antara masyarakat di kedua negara.

Deputi Sesjen ICIS Masykuri Abdillah mengatakan, keberagaman agama, budaya maupun suku bangsa merupakan hukum alam dan dapat menjadi faktor pemicu konflik, namun hal itu dapat dihindari dengan upaya baik dari para pemimpin negara dan pejabat pemerintah serta masyarakat dalam mengembangkan toleransi dan kerja sama dalam mewujudkan perdamaian.

"Masyarakat dunia juga harus terbuka dalam mengetahui nilai seluruh agama dan kebudayaan dalam mengembangkan etika global terutama dengan melaksanakan nilai agama yang damai, menghindarkan segala dominasi dan superioritas terhadap budaya atau kepercayaan tertentu," katanya.

Menurut pembicara dari Ethiopia, Sheikh Aman, perdamaian dan keselarasan antaragama dan budaya di Ethiopia terlaksana berkat adanya dialog yang sering dilakukan antarorganisasi dan pemuka agama.

"Dialog antardewan agama selalu kami lakukan dalam mencegah konflik antarumat beragama yang dapat mengarah kepada tindakan terorisme," katanya.

Ia menambahkan, di Ethiopia kegiatan agama diatur oleh masing-masing dewan agama.

Dialog antaragama yang diselenggarakan Kedutaan Besar RI Adis Ababa, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Agama serta Lembaga Pendidikan KeIslaman Internasional (ICIS), merupakan wujud komitmen Indonesia dalam menciptakan "harmoni diantara masyarakat".

Acara tersebut dihadiri Duta Besar RI untuk Ethiopia, Ramli Sa`ud, Ketua Delegasi Ethiopia, Kassi Belay Tegne, Pejabat Kementerian Luar Negeri, Alias Ginting serta sejumlah penggiat organisasi agama di Indonesia.

Hasil diskusi dialog bilateral tersebut akan diteruskan kepada pemerintah kedua negara, dalam hal ini Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Agama, untuk mendukung kondisi bangsa yang damai dan stabil dalam keberagaman agama, budaya serta suku bangsa. (ant)
foto : antara/HO-Ahmad

Mahasiswa Korban Doktrinisasi NII Didampingi Psikolog

Wartaislam.com - Beberapa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang menjadi korban doktrinisasi jaringan Negara Islam Indonesia (NII) mendapatkan pendampingan bimbingan dari para psikolog kampus tersebut.

Kepala Humas UMM Nasrullah dalam rilisnya, Selasa, mengatakan, korban yang sudah sadar tersebut masih diliputi trauma dan saat ini telah diberikan pendampingan secara psikologis serta dalam pengawasan dari pihak kampus agar tetap bisa konsentrasi belajar.

"Sebenarnya kami menyayangkan ekspos dari beberapa media yang juga mencantumkan nama jelas para korban maupun pelaku perekrutan. Kami khawatir pelaku akan melarikan diri dan korban yang saat ini masih dalam pengaruhnya akan semakin sulit terlacak," tegas dosen FISIP UMM tersebut.

Menurut dia, perekrutan (doktrinisasi) yang dilakukan organisasi radikal tersebut merupakan penipuan dengan modus baru dengan mengajak para korban untuk hijrah dan bergabung dengan organisasinya. Doktrinasasi para pelaku terhadap korban bahwa mengikuti NKRI maka dianggap kafir.

Jaringan pelaku diperkirakan sudah sangat kuat, terbukti ada beberapa nama yang disebut korban sebagai mahasiswa asal Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Cirebon, dan Malang. Para korban adalah mahasiswa baru yang didekati sejak sebelum memperoleh sentuhan pembekalan orientasi studi di kampus.

Calon korban mula-mula diajak bertemu dan berdiskusi di mal, restoran cepat saji atau cafe-cafe. Korban lalu diajak ke sebuah tempat di Jakarta dengan rute Surabaya-Yogya-Jakarta untuk alasan uji kesetiaan korban ditutup matanya sampai turun di rumah tempat pembaiatan.

Korban di baiat lalu diberi nama baru. Sebagai bukti kesetiaan pula korban diminta sejumlah uang antara Rp10-30 juta dengan cara membohongi orang tua. Korban juga ditugasi (pada umumnya korban patuh) untuk merekrut anggota baru dari lingkungan kelas dan teman mainnya.

Nasrul juga mengungkapkan, di UMM, penipuan dengan modus tersebut pernah terjadi pada Oktober 2008. Tim UMM segera bergerak cepat sehingga tiga orang korban berhasil diselamatkan, namun satu orang yang juga diminta mengaku tidak mau kembali ke jalan yang benar dan akhirnya di DO.

Terbongkarnya penipuan ini berkat tersadarnya salah seorang korban setelah memperoleh kuliah Al-Islam serta laporan orang tua yang diminta sejumlah uang oleh anaknya, padahal di UMM semua pembayaran resmi sudah tertuang dalam Buku Pedoman Pembayaran Keuangan mahasiswa, sehingga bila terjadi pembayaran di luar itu orang tua bisa menginformasikan kepada pihak kampus.

Pada bulan Maret 2011, tim UMM juga berhasil membongkar modus serupa. Sejumlah sembilan mahasiswa UMM, umumnya dari Fakultas Teknik jurusan Informatika dan Fikes, masing-masing masih angkatan 2010, berhasil disadarkan dari pengaruh penipuan. Perburuan tim juga mengarah kepada dua mahasiswa lainnya yang masih belum mengaku dan hingga kini masih terus dilacak keberadaannya.

Korban yang sudah sadar mengaku keluar dari kelompok radikal itu karena ajarannya tidak sesuai dengan yang diperoleh dari kampus melalui Program Pembentukan Kepribadian dan Kepemimpinan (P2KK) dan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).

"Orang tua korban yang berkomunikasi dengan pihak kampus diajak bersama-sama menelusuri korban yang belum kembali, yakni MR dan AAPP. Kepada keluarga korban pihak UMM memberikan semua data temuan, foto-foto hasil investigasi, serta skema modus operandi penipuan, untuk bisa dimanfaatkan bagi pencarian keberadaan korban," ujar Nasrullah. (ant)

Herman Ibrahim : Pelaku Individu Jangan Selalu Dikaitkan Ke Gerakan Islam

Wartaislam.com - Peristiwa Bom yang terjadi di Mapolresta Cirebon, beberapa waktu lalu jelas sangat menyudutkan umat Islam, apalagi media yang ada justeru malah memperlihatkan sisi buruk pelakunya dan justeru malah mengubung-hubungkan dengan gerakan Islam yang ada. 

"Terus terang, itu kan pelakunya individu,bahkan dia katanya DPO polisi sendiri Saya tak habis pikir justeru publik belum apa-apa sudah menudcing gerakan islam ada di balik peledakan bom di Mesjid Ad-Dzikra ini. Dari mana sumbernya ?" terang Y.Herman Ibrahim Pengamat Intelejen yang dihubungi oleh Wartaislam.com.

Lebih tragis lagi, belum apa-apa dituding pula sebagai produk dari Pesantren Al Mukmin Ngruki. Kata Herman, berarti itu sama saja dengan mengarahkan tindakan terorisme dengan ustad Abu Bakar Baasyir .

"Jujur saja, Ustab Abu telah mengatakan bahwa haram hukumnya jika meldakkan bom di mesjid. Itu pernyataan yang luar biasa dan ustad Abu Bakar Baasyir mengatakan meledakkan bom itu hanya boleh di daerah konflik di mana musuh telah benar-benar merusak islam. Kalau di Indonesia, apakah ini daerah konflik ?" tanyanya.

Pada bagian lain Herman juga mengatakan, para aktivis Islam sendiri jangan selalu terjebak dengan permainan intelijen dan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu yang menyebabkan stigma buruk selalu melekat di tubuh gerakan Islam."Gerakan Islam selamanya akan terus diawasi oleh intelijen makanya aktivis Islam sendri harus paham intelijen. Jangan bisanya justeru diutak-atik oleh permainan intelijen," tambahnya.

Herman mengatakan pula, sisi buruk aktivis dan lembaga Islam yang ingin menegakkan syariat islam selalus aja disorot. Ini menjadi bukti bila memang kaum islamfobia memang bergentayangan di negeri ini."Sekali lagi semua aktivis Islam harus berhati-hati jangan sampai terjebak. Saya ingatkan agar aktivis Islam jangan terjebak dengan pola-pola yang pernah dilakukan oleh Ali Moertopo dulu," pungkasnya.*** (WI-003).

Buku Alwi, Menyoal Pandangan Jihad antara Muslim dan Barat

Wartaislam.com - Mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab meluncurkan buku soal konflik Islam dan Barat. Menurut dia, konflik Islam dan Barat sudah lama terjadi, dan puncaknya terjadi di masa abad pertengahan. Sejak saat itulah, permusuhan Islam dan Barat terus berlangsung hingga saat ini.

"Selama ini, sejarah pertentangan antara Islam dan Barat seperti telah menembus alam bawah sadar masing-masing,” kata Alwi Shihab, dalam peluncuran bukunya yang berjudul: “Examining Islam in the West”, di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Senin 18 April 2011.

Menurut Alwi, harus diakui, hingga kini masih banyak Muslim dan kalangan Barat yang tidak cukup mengetahui komprehensif tentang ajaran agama mereka. Itulah yang memunculkan stigmatisasi masing-masing, yang berujung pada permusuhan.

"Jika ada dialog, sesungguhnya Muslim dan Barat bisa saling berangkulan, bekerja, dan bertepuk tangan," ujarnya.

Menurut dia, pemahaman jihad melalui kekerasan memang marak. Namun demikian, harus dipahami bahwa tidak semua muslim sepakat dengan tindakan jihad muslim melalui kekerasan.

Alwi juga menyentil pemahaman Barat yang kerap menggambarkan muslim selalu memakai jalan kekerasan. Pemahaman Barat yang demikian, menurut Alwi, akibat pola pikir sebagian kalangan Barat yang masih terpengaruh pemikiran Abad Pertengahan.

Alwi mengungkapkan, harus diakui umat muslim juga belum bisa menyajikan Islam secara toleran dan bisa dimengerti kalangan Barat. Kadang-kadang Islam disajikan dengan cara yang rumit, bahkan pikiran orang-orang biasa tidak bisa menyerap.

“Hal ini menjadi tantangan terbesar bagi sarjana Muslim di Barat untuk menyebarkan dan menyebarkan citra positif dan toleran ajaran Islam,” ujarnya.

Alwi berharap, melalui buku “Examining Islam in the West” pemahaman antara Islam dan Barat bisa sama-sama saling dikoreksi. Buku yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, merupakan terjemahan dari buku versi bahasa Indonesia yang berjudul “Membedah Islam di Barat” yang sebelumnya juga diterbitkan oleh penerbit yang sama pada tahun 2004.

Hasil refleksi dan diskusi dari berbagai peristiwa atas interaksi Islam-Kristen dan pengalaman Alwi dalam mengajarkan Islam di berbagai kampus serta forum di Amerika Serikat itulah yang dia tuangkan dalam bentuk buku. Peluncuran buku itu, juga dihadiri Duta Besar Amerika untuk Indonesia Scot Marciel. (vivanews)

MS DPO Polres Cirebon Dua Kali, Kok Bisa Menerobos?

Wartaislam.com - Pelaku bom bunuh diri di Mapolres Cirebon Kota ternyata sudah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) sebanyak 2 kali. Namun, ia ternyata berhasil lolos masuk Mapolres Cirebon Kota yang menjadikannya sebagai DPO.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Gerakan Anti-Pemurtadan dan Aliran Sesat (Gapas), Andi Mulya, usai pernyataan sikap ormas Islam di Islamic Center Kota Cirebon, Senin (18/4). "Saat penyerangan Alfamart tahun lalu, Syarif pun turut terlibat," katanya.

Hal tersebut diketahuinya saat menjenguk lima terdakwa yang perusakan Alfamart yang saat ini sudah jatuh vonisnya. "Mereka mengatakan saat itu Syarif pun ikut terlibat dalam penyerangan, tapi ia berhasil kabur," kata Andi. Syarif pun masuk dalam daftar pencarian orang oleh Polres Cirebon Kota.

Seperti diketahui, pada 19 September 2010 lalu sebanyak 3 Alfarmat di Kota Cirebon, yang terletak di Jalan Kesambi Dalam, Jalan Lawanggada, dan di Jalan Ahmad Yani Bypass, Kota Cirebon. Penyerangan dilakukan pada dini hari oleh orang yang berpakaian seperti ninja, yaitu menggunakan penutup wajah dan jubah.

Dengan menggunakan puluhan sepeda motor, pasukan ninja tersebut langsung memasuki minimarket dan menuju lemari es. Di sana mereka mengambil minuman beralkohol rendah yang dijual di minimarket tersebut dan dengan sengaja memecahkannya di depan toko. Pengunjung yang kebetulan sedang berbelanja pun dibuat ketakutan.

Saat itu, lima terpidana tersebut dikelompokkan polisi dalam remaja masjid Al Zaytun, salah satu masjid yang ada di lingkungan Cirebon Super Block (CSB). Dulunya lahan ini merupakan lahan milik Brimob yang sudah ditukar guling.

Namun, Andi sendiri membantah jika mereka anggota remaja masjid Al Zaytun. "Mereka memang sering mengaji di sana, tapi di sana tidak ada remaja masjid," katanya.

Selanjutnya, Syarif pun masuk dalam pencarian orang karena membunuh Kopral Kepala (Kopka) Sutedjo, anggota Kodim 0620 Sumber, Kabupaten Cirebon. pada Sabtu (2/4) lalu. Saat itu SIM C atas nama Syarif yang beralamat di Astanagarib Utara Kelurahan/Kecamatan Pekalipan Kota Cirebon di dekat mayat Sutedjo yang ditemukan di dekat saluran irigasi Desa Kenanga, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon. Syarif masuk dalam daftar pencarian orang karena jajaran Polres Sumber, Kabupaten Cirebon, ternyata tidak berhasil menemukannya di rumah orangtuanya. (mi)

Teka-teki Bom Cirebon Dinilai untuk Percepat RUU Intelijen

Wartaislam.com - Peristiwa bom bunuh diri di kompleks Mapolresta Cirebon, Jawa Tengah, dianggap sebagai agenda terselubung untuk mempercepat dan meloloskan RUU Intelijen.

Ditemui di Kine Forum Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Senin (18/4), Ketua Badan Pekerja Kontras Usman Hamid dan pengamat politik Yudi Latif mencurigai adanya agenda terselubung di balik aksi teror bom di Cirebon tersebut.

Apakah ini salah satu agenda dari pemerintah untuk memberikan kewenangan kepada intelijen? "Saya kira iya, ada kemungkinan bahwa terorisme dijadikan alasan untuk mempertahankan kepentingan orang-orang intelijen lama. Hal itu dilakukan untuk memperkuat kekuasaan dari kalangan intelijen yang selama ini bertanggung jawab atas kasus terorisme," kata Usman Hamid.

Dalam pandangannya, Usman melihat, saat ini BIN dan kepolisian, khususnya Densus 88, seperti bersaing. Maka dari itu, lanjutnya, kewenangan untuk melakukan penangkapan, pembekuan rekening, penyadapan telepon itu ingin diambil oleh badan intelijen negara lewat RUU Intelijen.

"Itu artinya BIN kesulitan menjalin hubungan dengan pihak kepolisian, atau sebaliknya kepolisian sulit menjalin hubungan baik dengan BIN. Yang lebih parahnya lagi, masing-masing institusi bersaing untuk mendapatkan informasi di lapangan sekaligus bersaing untuk mendapatkan proyek-proyek antiteror," kata Usman.

Hal ini, menurut Usman, tetap tidak berdiri sendiri, karena ada kepentingan politis di baliknya.

Senada dengan Usman, pengamat politik Yudi Latif mengungkapkan kecurigaan yang serupa.

"Dugaan saya, terorisme memang ada di sana (Cirebon)," ujar Yudi kepada mediaindonesia.com.

Menurut analisanya, seringkali kejadian dan penangkapan terorisme berkaitan dengan agenda politik tertentu.

"Frame besarnya terorisme selalu terkait dengan agenda jangka pendek politik. Dalam hal ini mungkin ruu intelijen. Ini mungkin diarahkan sebagai bukti RUU Intelijen ingin di gol-kan seperti yang mereka mau," imbuhnya.

Ditanya tentang kemungkinan transaksional dalam mendorong RUU Intelijen, Yudi mengatakan hal tersebut selalu ada. "Kemungkinan jawabannya hanya politik transaksional. Dibalik sebuah UU selalu ada transaksional," imbuh Yudi. (mi)

KH Miftah Farid, 5 Periode Pimpin MUI Kota Bandung

Wartaislam.com - KH Miftah Farid kembali menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung periode 2011-2016. Miftah terpilih untuk kelima kalinya ini dipilih secara aklamasi dalam Musyawarah Daerah (Musda) VIII MUI Kota Bandung di Kantor MUI Kota Bandung, Jalan Sadangserang Kota Bandung, Sabtu (16/4/2011)

Miftah menjelaskan, dalam kepemimpinannya sekarang, akan lebih berkonsentrasi pada kaderisasi.

"Bukan berarti saat ini tidak ada kaderisasi, namun akan lebih ditingkatkan sehingga ke depan muncul ulama-ulama, dai yang berkualitas di tengah beratnya tantangan hidup," ujar Miftah kepada wartawan usai terpilih menjadi Ketua MUI Kota Bandung.

Miftar sendiri masih dipercaya menjadi ketua MUI oleh seluruh peserta Musda dari 30 MUI kecamatan, 2 pengurus lama, dan ormas Islam. "Bukan hanya sosok yang dilihat, tapi juga keteladanan beliau yang selama ini patut dijadikan contoh," tutur Ketua Pemilihan KH Ishaq Rauf kepada wartawan.

Ishaq menilai,lewat kepemimpinan Miftah, semua ulama dan umat Islam di Kota Bandung hidup rukun. Meskipun berasal dari Muhammadiyah, Miftah selalu merangkul seluruh ulama di Kota Bandung untuk menjaga persatuan.

"Jadi bukan berarti kaderisasi di MUI itu tidak ada, kaderisasi tetap berjalan sebagaimana mestinya. Namun karena keteladanan beliaulah, yang membuatnya kembali dipercaya untuk kelima kalinya," tuturnya.

Ishaq mengharapkan, Miftah dapat tetap independen memelihara orientasi keumatan dalam mengemban misi dakwah. Guna menyebarkan rahmat untuk sekalian alam di atas semangat ukhuwah (persaudaraan), ta'awuniyah (tolong menolong dan kerjasama), tasamuh (toleransi dan moderat), qudwah (kepeloporan) dan syuriyah (permusyawaratan). (inilah)

Fatwa MUI Bandung : Utang Negara Tanggung Jawab Negara

Wartaislam.com - Selain dikenal sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak, Indonesia juga dikenal sebagai negara pengutang (kreditor) terbesar juga. Hal inilah yang sering menjadi bahan pembicaraan di tengah masyarakat.

Utang Indonesia yang sudah mencapai ribuan triliun rupiah jika dibagi dengan jumlah penduduk Indonesia, maka setiap warga negara akan ”kebagian utang” sekian juta rupiah. Meski hal tersebut masih sebatas opini atau guyonan dalam setiap pembicaraan masalah utang Indonesia, namun sebagian masyarakat sering mempertanyakan kebenaran opini tersebut.

Atas dasar itu Majelis Ulama Indonesia Kota Bandung mengeluarkan fatwa tentang status utang negara. ”Setelah mengkaji berbagai kitab rujukan dan melakukan musyawarah, akhirnya diputuskan bahwa utang negara bukan merupakan utang pribadi warga negara, melainkan utang yang harus diselesaikan (kepala) negara,” jelas Ketua Komisi Fatwa MUI Kota Bandung, KH.Maftuh Kholil kepada wartaislam.com, Ahad (17/4).

Maftuh menambahkan setelah ada fatwa status hukumnya, maka negara sepenuhnya berkewajiban melunasi utang tersebut dan tidak membebankan kepada rakyatnya.Masyarakat sendiri diharap tidak perlu resah.

MUI Kota Bandung juga telah mengeluarkan fatwa tentang pemberian hadiah kepada non-Muslim. Dalam hal ini MUI memutuskan bahwa saling memberi hadiah (kado) sebagai wujud hubungan kemasyarakatan diperbolehkan, termasuk dalam hal ini kerja sama dalam kemasyarakatan, semisal membuat jalan umum atau membangun pos keamanan lingkungan.

”Sedangkan untuk kerja sama antara Muslim dengan non-Muslim dalam urusan ritus ibadah hukumnya haram,” jelas Maftuh.

Hal tersebut, menurut Maftuh, perlu dan status hukumnya untuk menjaga kemurnian akidah umat Islam dalam berhubungan dengan non-Muslim, mengingat masyarakat Indonesia yang majemuk dan umat Islam juga hidup dalam lingkungan yang tidak semua Muslim. Sehingga diharapkan kerukunan umat beragama tetap terjaga dengan saling menghormati.

Fatwa-fatwa tersebut telah diputuskan dan dibacakan dalam acara Musyawarah Daerah (Musda) MUI Kota Bandung yang berakhir Sabtu (16/4) malam. Dalam Musda tersebut Prof. Dr. KH. Miftah Faridl terpilih kembali untuk mengemban amanah lima tahun ke depan. Terpilihnya KH. Miftah Faridl ini untuk periode yang kelima.

Sedianya Musda juga akan mengeluarkan fatwa terhadap masjid-masjid yang menyewakan menaranya untuk dijadikan menara telepon seluler. Hal tersebut perlu mendapat kejelasan hukum, mengingat saat ini banyak masih masjid yang menyewakan menaranya kepada operator telepon seluler sehingga sering menjadi perdebatan antara jama’ah dengan pengelola masjid yang bersangkutan.

”Fatwanya kami tunda dulu, karena pembahasan fatwa status hukum menara telepon seluler yang memanfaatkan fasilitas masjid masih perlu pembahasan yang mendalam lagi.imbuh Maftuh. ***(WI-002)

Produser '13 Cara Memanggil Setan' Jawab FPI

Wartaislam.com - Berkait aksi Front Pembela Islam (FPI) yang mendemo film berjudul 13 Cara Memanggil Setan ke Lembaga Sensor Film (LSF), Jumat, 15 April 2011, Ki Kusumo, produser film tersebut, angkat bicara. Dia menyesalkan alasan FPI bahwa film itu terlalu vulgar dan membuat masyarakat banyak yang kesurupan.

Ki Kusumo beralasan, dalam memproduksi film tersebut, pihaknya sudah mengikuti prosedur dan aturan yang benar. “Saya memproses film tersebut sudah melalui relnya, sudah melewati aturan yang ada dan telah dinyatakan lolos sensor, dengan kategori film horor dewasa,” dinyatakan Ki Kusumo dalam keterangan persnya, 17 April 2011.

Ki Kusumo menambahkan, vulgar atau tidaknya adegan di film itu tergantung persepsi orang. “Adegan-adegan tersebut sudah pada tempatnya. Kalau di kolam renang pakai baju renang, di ranjang pakai baju tidur, itu kan wajar. Kecuali jika telanjang di kolam renang, tentunya menyimpang,” katanya.

Menyoal tudingan banyak orang yang kesurupan, masih kata Ki Kusumo, jauh-jauh hari pihaknya sudah mengingatkan. “Cara-cara memanggil setan di film itu asli. Makanya, saya sudah melarang penonton untuk tidak mempraktekkannya setelah menonton film itu. Dan ini jauh-jauh hari sudah saya sosialisasikan.”

Soal langkah hukum, Ki Kusumo masih menunggu. Saa ini dia baru melakukan klarifikasi. “Ini adalah langkah pendewasaan. Tapi bilamana terjadi suatu proses hukum, kami juga akan melakukan hal yang sama,” ucapnya.

Film '13 Cara Memanggil Setan' dirilis di bioskop sejak 7 April 2011. Sejak tayang perdana, film yang dibintangi Debby Ayu dan Five V. ini mampu menyedot pengunjung, dan memancing kontroversi di antaranya lantaran adegan-adegan panas yang diperankan kedua artis tersebut.

Pemutaran film itu kemudian memicu FPI menggelar demonstrasi bersama Laskar Pembela Islam (LPI) dan Gerakan Pembela Rasulullah (Gempur). Mereka berunjuk rasa ke kantor Lembaga Sensor Film (LSF) di Jl. MT Haryono, Jakarta Selatan, Jumat kemarin.

“Jika dalam satu bulan pemerintah tak menurunkan film tersebut, kami akan mengambil tindakan. Dengan tegas kami nyatakan jika LSF tak bisa lagi menyensor film-film seperti itu, bubarkan saja,” kata Habib Salim Selon, Ketua DPD FPI DKI Jakarta, sangar. (vivanews)

Tokoh Politik di Pucuk Pimpinan ICMI

Wartaislam.com - Setelah melewati persidangan alot sampai pagi, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia berhasil memilih lima Presidium. Dua di antaranya adalah politisi yakni Priyo Budi Santoso dan Marwah Daud Ibrahim.

Pada pemilihan Selasa pagi, 7 Desember 2010, Ilham Habibie berhasil mengantongi suara terbanyak, 410. Urutan kedua diraih Nanat Fatah Nasir dengan 308 suara, urutan ketiga Marwah Daud dengan suara sebanyak 276, keempat dipegang oleh Priyo Budi Santoso dengan 271 suara, dan kelima Sugiarto dengan suara 231.

Beberapa politisi seperti bekas Sekretaris Jenderal PAN yang juga Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan gagal meraih suara untuk masuk lima besar. Sebelumnya, Ketua Umum PAN Hatta Rajasa dan Ketua Fraksi Demokrat Jafar Hafsah juga disebut akan ikut bersaing.

Menurut peneliti senior Lembaga Survei Indonesia Burhanuddin Muhtadi, masuknya para politisi dan pejabat dalam pertarungan ini atas inisiatif pribadi. “Mereka ditarik-tarik oleh pengurus internal ICMI,” kata Muhtadi menganalisis.

Muhtadi berpendapat, hal itu menunjukkan ketidakpercayaan diri ICMI terhadap perannya di kancah nasional. “Sebagian pengurus ICMI, terutama di daerah, mengidap krisis kepercayaan diri pasca-menjauhnya ICMI dari pusaran kekuasaan,” kata Muhtadi kepada VIVAnews. Dengan demikian, lanjutnya, mereka pun mencoba mendekatkan kembali aspirasi ICMI dengan elite politik.

“Tentu saja itu pikiran yang salah dan harus kita kritik,” ujar Muhtadi. Terlebih, AD/ART ICMI melarang politisi duduk di kursi presidium. “Tapi pengurus ICMI DKI, misalnya, tetap meminta dan memaksa-maksa Hatta untuk masuk dan berupaya mengubah AD/ART ICMI. Padahal Hatta sendiri enggan,” ujar Muhtadi. Akhirnya, kini Hatta pun batal menjadi Presidium karena tidak mengirim formulir kesediaan diri menjadi Presidium ICMI.

Muhtadi menegaskan, ICMI yang belakangan ini jauh dari politik kekuasaan, sudah berada pada jalur yang benar. “Lebih penting proyek kultural ICMI dibanding politik massa,” ujar Muhtadi.
Muhtadi mengingatkan, saat ICMI dipimpin oleh B. J. Habibie pada akhir-akhir masa kekuasaan Orde Baru, ICMI sempat hendak dijadikan alat politik memperkuat legitimasi Soeharto. Oleh karena itu, ujarnya, jangan sampai hal serupa terulang kembali.

Sementara mengenai Priyo Budi Santoso yang mengklaim telah mendapat dukungan daerah menjadi Presidium, Muhtadi mengakui Priyo sudah lama bergabung dengan ICMI. “Dari dulu saat Priyo masih menjadi aktivis, dia sudah aktif di organisasi sayap ICMI,” tutur Muhtadi. Tapi, sambungnya, alangkah baiknya bila tokoh politik tidak menjabat sebagai pimpinan puncak ICMI, karena hal itu pun akan bertabrakan dengan AD/ART ICMI.

Priyo Budi Santoso yang juga salah satu Ketua Partai Golkar menyatakan ICMI akan bersikap netral dan independen terhadap Pemerintah dan politik. Meski di antara Presidium ICMI ini terdapat politikus dan pejabat pemerintah, namun mereka akan tetap independen dan netral untuk memajukan bangsa dan kemaslahatan masyarakat.

Oleh karena itu, kata dia, untuk memajukan ICMI dan akan memberikan masukan terhadap pemerintah dan politik. Presidium terpilih yang aktif di partai politik (Parpol) akan melepaskan "bendera partai" masing-masing, kata Priyo usai Muktamar, Selasa 7 Desember 2010.

Meski independen dari Pemerintah, ICMI tidak boleh alergi terhadap Pemerintah namun juga tidak boleh membungkuk terhadap kebijakan pemerintah. ICMI, kata Priyo, akan terus memberikan masukan terhadap pemerintah demi kemaslahatan bangsa dan masyarakat.

Sementara itu, Ilham Habibie mengatakan, dia bersyukur terpilih menjadi Presidium ICMI tahun 2010-2011. Dalam menjalankan amanat, putra pendiri ICMI BJ Habibie itu menyatakan akan mengutamakan musyawarah mufakat. Jika tidak ada maka akan dilakukan voting.

Lebih lanjut Ilham mengatakan, selama menjabat menjadi Presidium, ada tiga hal yang harus dilakukan oleh ICMI. Pertama organisasi itu harus mempunyai kepemimpinan solid. Kedua, harus memperkuat organisasi dari tingkat Organisasi Wilayah dan Organisasi Daerah. Ketiga, ICMI harus terasa sampai akar rumput, jangan hanya sebatas konsep.(vivanews)

ICMI Targetkan Cetak 10 Ribu Saudagar Muslim

Wartaislam.com - Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur dalam lima tahun ke depan menargetkan mencetak 10 ribu saudagar muslim. Guna mewujudkan itu, ICMI akan menggandeng sejumlah lembaga lain, misalnya Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, pondok pesantren, yayasan, dan organisasi-organisasi massa.

"Kami ingin menciptakan pengusaha baru maupun lama sebagai pelaku bisnis. Kemudian, bersama-sama melakukan penguatan kepada pelaku usaha kecil menengah serta mencetak pengusaha muslim yang tangguh," kata Ketua Umum ICMI Jatim, Ismail Nachu, pada pelantikan Pengurus ICMI Orwil Jatim di Surabaya, Sabtu, 16 April 2011.

Menurut dia, yang menjadi masalah besar saat ini untuk menjadi pengusaha bukanlah pada modalnya, melainkan pada pemikirannya. Pikiran seseorang harus diubah dan didesain agar banyak yang berani memilih profesi pengusaha.

"Orang banyak salah kaprah. Memilih menjadi pengusaha ketika usia sudah lanjut, kepepet, tidak diterima kerja atau dipecat dari pekerjaannya. Ini yang harus diubah, bahwa usia muda sangat potensi menjadi pengusaha sukses," kata Ismail.

Pria yang terpilih aklamasi di Muswil ICMI Jatim November 2010 silam itu juga mengungkapkan, lima tahun ke depan, ICMI juga mereposisi gerakan pemikiran dan memproduksi nilai-nilai baru guna mengawal kepribadian berkebangsaan dengan nilai etika serta keberagamaan yang bagus.

"ICMI jadi tempat persemaian karakter bangsa yang berakhlakul karimah untuk mengawal keberagaman negeri ini menuju cita-cita yang diamanatkan undang-undang," katanya.

Alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya tersebut bangga dengan aset besar susunan pengurus ICMI dari latar belakang beraneka ragam, sehingga mampu menambah kekuatan ICMI.

Senada, Ketua Presidium ICMI Pusat Ilham Akbar Habibie usai melantik pengurus baru, optimistis target ICMI Jatim mencanangkan program 10 ribu saudagar muslim akan terwujud. "Saya yakin banyaknya tokoh Jawa Timur yang memiliki kemampuan, akan bisa melaksanakan program itu. Memiliki para pengusaha sukses di masa mendatang," kata putra mantan Presiden BJ Habibie itu. (vivanews)