Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan

Abdullah Bin Zubeir, Perwira Islam Penakluk Raja Barbar


Masjid Salman ITB: Ditentang Rektor, Didukung Proklamator


Tlemcen, Potret Ibukota Kebudayaan Islam

Berada di ketinggian 850 meter dari permukaan air laut, kota Tlemcen di wilayah barat Aljazair memiliki peran penting dalam perkembangan budaya Islam. Konferensi para menteri kebudayaan negara Islam di Baku, Azerbaijan 2009, telah menetapkan kota tersebut sebagai ibukota kebudayaan Islam tahun 2011. Komunitas institusi kebudayaan negara-negara Islam itu bernama Islamic Educational, Scientific and Cultural Organisation (Isesco).

Abu'l-Barakat al-Baghdadi, Ilmuwan Besar dari Baghdad

Kitab al-Mu'tabar menjadi karya fenomenal Barakat yang berisi esai-esai tentang filsafat dan sains.
Abu'l-Barakat al-Baghdadi dikenal sebagai seorang dokter dan filsuf. Ia dikenal pula sebagai seorang saintis. Nama lengkapnya, Hibat-Allah ibn Ali ibn Malka Abu'l-Barakat al-Baghdadi. Ia pun memiliki nama julukan, Awhad al-Zaman atau orang ternama pada zamannya.

Ibnu Miskawaih, Mendorong Pendidikan Sejak Dini

Pendidikan sejak dini bagi seorang anak akan membuat mereka kelak menjadi manusia yang baik. 

Pendidikan bukanlah ranah asing bagi Ibnu Miskawaih. Ia telah lama bergelut di bidang tersebut walaupun lebih dikenal sebagai filsuf dan lekat dengan bidang etika. Maka, berserak pula uraian konsep-konsepnya tentang pendidikan.

Jamshid Al-Kashi, Ilmuwan Besar Dari Dinasti Timurid

Al-Kashi merupakan ilmuawan yang sangat hebat, dan salah seorang yang paling terkenal di dunia.
Jamshid al-Kashi merupakan salah seorang matematikus masyhur di dunia Islam. Ia adalah seorang saintis yang mengembangkan matematika dan astronomi pada zaman kejayaan Dinasti Timurid, di Samarkand abad ke-14 M.  Ia berjasa mengembangkan ilmu matematika dan astronomi dengan sederet penemuannya.

Al-Kashi terlahir pada 1380 di Kashan,  sebuah padang pasir di sebelah utara wilayah Iran Tengah. Ia hidup pada era kekuasaan Timur Lenk, pendiri Dinasti Timurid, yang memenangkan sederet pertempuran. Timur Lenk  memproklamirkan dirinya sebagai penguasa dan tokoh restorasi Kekaisaran Mongol di Samarkand pada 1370.

Sisi Biologi dan Kedokteran Imam Al Ghazali

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali merupakan seorang pemikir yang multi talenta yang banyak menyumbangkan pemikirannya dalam ilmu teologi, filsafat, astronomi, politik, sejarah, ekonomi, hukum, kedokteran, biologi, kimia, sastra, etika, musik, maupun sufisme.

Dia adalah teolog Islam, ahli hukum, ahli filsafat, kosmologi, psikolog, maupun biologi. Dia dilahirkan di Tus, Provinsi Khorasan, Persia dan hidup antara tahun 1058 hingga 1111. Al Ghazali yang sering disebut juga Algazel merupakan salah satu sarjana yang paling terkenal dalam sejarah pemikiran Islam Sunni. Dia dianggap sebagai pelopor metode keraguan dan skeptisisme. Salah satu karya besarnya berjudul Tahafut Al Falasifah atau The Incoherence of the Philosophers.

Ilmu Pemetaan Menentukan Kiblat Di Era Kejayaan Islam


Para ilmuwan Muslim di era keemasan peradaban Islam telah mengembangkan metode pemetaan. Dengan menguasai pemetaan, para astronom mampu menentukan posisi lintang dan bujur tempat-tempat di permukaan bumi. Hasilnya bisa digunakan untuk beragam kepentingan. Salah satunya  untuk menghitung hasil pengamatan posisi benda-benda yang ada di langit.

Menurut Ahmad Y al-Hassan dan Donald R Hill dalam karyanya bertajuk Islamic Technology: An Illustrated History mengungkapkan, para astronom Muslim memiliki beberapa cara untuk menemukan koordinat suatu benda di langit. Salah satunya dengan menentukan garis meridian, yakni garis yang melintang dari arah selatan suatu tempat kemudian ditarik hingga ke kutub utara langit dan titik zenith.

Abu Al Zahrawi, Sang Penemu Gips Di Era Kemajuan Islam

Abu Al Zahrawi merupakan seorang dokter, ahli bedah, maupun ilmuan yang berasal dari Andalusia. Dia merupakan penemu asli dari teknik pengobatan patah tulang dengan menggunakan gips sebagaimana yang dilakukan pada era modern ini. Sebagai seorang dokter era kekalifahan, dia sangat berjasa dalam mewariskan ilmu kedokteran yang penting bagi era modern ini.

Al-Baqilani, Salah Satu Referensi Politik Umat Islam

Politik sudah terlanjur digambarkan jahat dan 'machiavellis'. Ketika berbicara politik, pasti tergambarkan suatu praktik kotor dengan segala modusnya, mulai dari money politic, aksi teror, suap menyuap, dan lain sebagainya. Tidak cukup itu, politik sudah kadung biasa mengajari bermuka dua; di depan umum berwajah manis, tapi sebenarnya ia jahanam. Sebab itulah banyak kalangan terlanjur percaya bahwa tidak pantas Islam dibawa-bawa dalam kancah politik. Kalaupun ada yang memaksa, tidak mungkin berhasil, pasti kalah! Pasti tidak tahan bersaing! Sebab Islam terlalu suci, katanya. Namun, apakah sebenarnya demikian?

Dan bagaimana kepemimpinan dalam Islam menurut al-Baqillani? Berikut hasil diskusi Institute for Study the Study of Islamic Thougth and Civilization (INSISTS) bersama Hasan Darojat, di Segambut Malaysia beberapa saat lalu. Resume diskusi ini ditulis ulang oleh Ahmad Dimyati.

***

Tulisan ini tidak muluk-muluk ingin mengkonsep suatu teori politik yang betul-betul pas dan sempurna buat umat Islam, kalaupun nantinya hal itu juga tercapai. Tapi tulisan ini ingin menyatakan bahwa ada yang perlu dipelajari dari khazanah intelektual Islam tentang politik dan kepemimpinan negara. Ada banyak pemikiran ulama dahulu yang perlu digali pelajarannya, di mana di sana tersimpan teori-teori matang bagaimana seharusnya kepemimpinan dalam umat Islam.

Abu Bakar al-Baqillani merupakan salah satu ulama yang cukup awal menkonseptualisasikan teorinya tentang hal ini. Lahir di Basrah, tahun 338 H/950 M dan meninggal di Baghdad, tahun 403 H/1013 M, al-Baqillani termasuk ulama yang produktif menelurkan karya-karya otoritatif dalam berbagai bidang. Beberapa kitab yang sampai kepada kita adalah al-Tamhid, Manaqib al-Aimmah al-Arba'ah, I'jaz al-Quran, al-Inshaf, dan al-Taqrib wa al-Irsyad. Dua kitab yang pertama adalah yang berbicara masalah kepemimpinan dalam Islam.

Al-Tamhid, salah satunya yang pernah di-tahqiq oleh Joseph Richard McCarthy, seorang orientalis yang memang memfokuskan diri dalam mengkaji al-Baqillani, mempunyai bab khusus berbicara tentang imamah (kepemimpinan). Sayangnya McCarthy membuang bab ini sebagai bagian dari editannya. Bukan tidak beralasan membuangnya, namun alasannya cuma diplomatis, yakni karena bukan bagian dari akidah, katanya. Padahal konsep imamah ini, jika diamati dari berbagai kutub turath dahulu, pembahasan imamah dimasukkan dalam Usul al-Din (asas-asas agama). Maknanya, alasan McCarthy itu seperti cuma untuk mengelabuhi pembacanya dari agenda-agendanya. Mungkin imbas dari agendanya adalah, di masa kita sekarang, ketika bincang masalah usuludin, termasuk Fakultas Ushuludin di kampus-kampus Islam, tak pernah ada disiplin ilmu tentang imamah. Padahal, perbincangan ini amat perlu dikembangkan dalam rangka mengembangkan konsep kepemimpinan dalam Islam.

Sepertinya, untuk mengenal konsep politik dalam pemikiran al-Baqillani tidak cukup membaca kitab al-Tamhid-nya saja, sebab kitab ini hanya sebagiannya yang membahas imamah. Yang lebih fokus membahas konsep kekuasaan dalam Islam ini adalah kitab Manaqib-nya. Kepemimipinan yang dibahas pada kitab ini mengambil obyek khalifah yang empat. Makanya kitab ini disebut Kitab manaqib al-Aimmah al-Arba'ah.

Kepemimpinan dalam Islam

Al-Baqillani dalam merumuskan konsep kepemimpinannya menggunakan lima pijakan; al-Quran, hadith, ijma', qiyas, dan hujjah akal. Dari telaah ilmiahnya, di mana al-Baqillani mendasarkan diri pada khabar mutawatir dan ahad, ia menyimpulkan bahwa kepemimpinan dalam Islam harus ada dan tidak bisa ditolak keberadaannya. Gunanya adalah untuk mengatur dan membentengi umat dari serangan musuh, untuk pengawasan, penegakan hukum, pendistribusian harta fai', pengamanan umat dalam ibadah haji, dan penyiapan tentara untuk mengawasi musuh.

Dalam konteks kekinian, urgensi kepemimpinan ini semakin tampak. Umat Islam saat ini seakan buih di atas lautan yang terombang ambing tak tahu hal yang dituju disebabkan kepemimpinan yang nihil. Ke mana merujuk dan kepada siapa berpandu, umat ini tak putus-putus bingung. Bahkan di tengah kebingungan itu sudah bukan suatu yang asing lagi terjadinya pertikaian antara saudara, konfrontasi sesama muslim, perang saudara, dan sejenisnya. Tidak hanya itu, umat Islam mudah sekali diacak-acak, difitnah, diobok-obok dari internal maupun eksternal umat Islam. Semua itu tidak mengherankan, sebab salah satu instrumen untuk meninggikan agama Allah sudah musnah, belum lagi bisa diwujudkan lagi, yakni kepemimpinan dalam Islam.

Kalau ditanya, seperti apa kepemimpinan yang dimaksudkan oleh al-Baqillani? Dilihat dari karakter kepemimpinan para pengganti Rasulullah SAW yang empat, Abu Bakar, Umar, Uthman, dan Ali radhiyallahu 'anhu, dan berdasarkan dalil-dalil otoritatif yang mendasari pendapatnya, al-Baqillani menyimpulkan tiga karakter bagi pemimpin Islam: pertama, keturunan Quraisy. Karakter ini dahulu disepakati menjadi syarat baik di kalangan sahabat, tabiin, maupun tabiit tabiin. Namun sepertinya syarat ini bukanlah physicly Quraisy, tapi karakter dan mental Quraisy di saat itu. Artinya, mungkin di saat itu karakter orang-orang Quraisy memang unggul seperti tampak pada khalafaurrasyidin yang empat. Salah satu keterangan dari Ibn Khaldun menyebutkan bahwa sebenarnya al-Baqillani menyetujui akan adanya kepemimpinan yang datang dari luar klan Quraisy.

Kedua, menurutnya pemimpin itu harus berilmu. Ini untuk menghindari kekacauam dalam kepemimpinannya. Selain ilmu teras agama, al-Baqillani menyebut asas dalam kepemimpinan adalah ilmu bagaimana membentengi rakyat, manajemen, dan administrasi. Karakter kedua ini cukup signifikan sebab posisi pemimpin adalah posisi cerdas, lugas, tegas, dan tangkas, yang sanggup menghadapi badai problematika umat, membaca celah-celah manfaat di antara tebing-tebing kemudharatan umat, walau dalam keadaan mendesak sekalipun. Dan pemilihan pemimpin seperti bukan sekedar performannya, tapi karena ilmunya. Jika sebaliknya, pemimpin itu bodoh, maka yang terjadi hanyalah merusak, dan kerusakannya itu ada di puncak kedahsyatannya. Kerusakan di dunia saat ini, misalnya, tidak bisa dinafikan lagi adalah sebab pemimpin yang tidak memenuhi kriteria ini. Namun demikian, agar tidak simplistis dan latah dengan konsep ilmu Barat yang 'artifisial', maka istilah berilmu ini seharusnya dirujuk kepada worldview Islam.

Ketiga, pemimpin baginya adalah harus mempunyai keberanian dan ketahanan emosi dalam melaksanakan kepemimpinannya. Hal itu demi tegaknya keadilan dalam segala aspek. Dengan kata lain, seorang pemimpin adalah betul-betul memposisikan diri sebagai yang betul-betul adil di hadapan umatnya. Ketidakadilan sering terjadi akibat kekurangtegasan dan kelemahan terhadap goncangan pihak-pihak tertentu yang memang mengancam stabilitas kepemimpinan itu. Adil, berwibawa, dan bersahaja adalah bagian dari karakter ini, barangkali.

Namun demikian, pemimpin tidak harus orang yang bersih dari dosa. Menurut al-Baqillani, pemimpin dalam Islam itu harus yang ma'sum (terjaga dari dosa). Sebab yang demikian itu hanya Nabi adanya, yang selain Nabi pasti ada dosa, walaupun kemudian ada yang diampuni oleh Allah. Bagaimanapun, pemimpin harus diambil dari yang terbaik dari umat ini (al-fadhl). Dan menurutnya, pemimpin itu bukan ditunjuk, walaupun itu juga bisa terjadi, tapi dipilih (ikhtiyar). Ini untuk menangkis pandangan kaum Syiah bahwa dahulu Rasulullah Saw menunjuk Ali, walaupun hadith yang digunakannya adalah hadith ahad. Ini bisa dimengerti dari judul buku al-Baqillani, mengapa judul itu berjudul Kitab manaqib al-Aimmah al-Arba'ah. Karena selepas imam yang empat (khalafaurrasyidin), kepemimpinan tidak lagi dipilih, tapi ditunjuk.

Oleh karena itu, proses pemilihan pemimpin bagi al-Baqillani adalah dilakukan oleh orang-orang tertentu saja, yakni orang-orang yang dapat dipercaya, kapabel, dan kredibel. Istilahnya adalah afadhil al-muslimin. Mereka dikenal dengan ahl al-hill wa aqd, di mana jumlah orang ini tidak ada batasan yang pasti dalam pandangannya. Jadi mereka yang memilih pemimpin terbaik nantinya. Ini berbeda dari pola pemilihan pemimpin langsung oleh masyarakat, yang setiap orang boleh memilih, tanpa memandang kapasitas pemilihnya. Sistem ini mengingatkan kita pada sistem perwakilan rakyat (DPR-MPR) yang memilih presiden di suatu negara.

Mengenai batas masa kepemimpinan, al-Baqillani tidak setuju adanya pembatasan, selagi masih bisa meneruskan tugas-tugas sebagai pemimpin. Hal itu penting karena perlunya adanya kesinambungan kinerja pada setiap program dalam kepemimpinannya. Sebaliknya, yakni ketidaksinambungan akan terjadi, apabila pemimpin dibatasi masa jabatannya dan diganti dengan yang baru dalam masa yang singkat, maka yang sering terjadi diskoneksi kebijakan dan arah program yang menyebabkan kekacauan, baik yang sifatnya sederhana hingga yang besar, sebagaimana yang biasa terjadi di masa kita sekarang ini. Walau bagaimanapun, kepemimpinan bisa dibatalkan. Mengenai pembatalan kepemimpinan ini al-Baqillani menyebutkan empat poin: (a) pemimpin beralih agama; (b) adanya penyakit fisik dan mental sehingga menghalangi diri dalam memimpin; (c) hilangnya pemimpin, semisal jatuh dalam tahanan musuh; dan (d) sudah ada yang lebih layak memimpin.

Catatan Akhir

Paparan singkat ini memberikan beberapa catatan penting tentang konsep imamah dalam Islam. Bahwa ada kerja-kerja orientalis manipulatif untuk menghapus pembahasan teori kepemimpinan dalam bagian yang asas dalam Islam. Sehingga pembahasan Ushul al-Din tidak lagi membicarakan kepemimpinan, sebagaimana yang dibuat oleh Joseph McCharty. Kalaupun belakangan muncul istilah siyasah syar'iyyah, namun biasanya muncul di bawah pembahasan syariah yang bukan fundamental lagi.

Selain itu, konsep kepemimpinan versi al-Baqillani ini sebaiknya menjadi referensi politik masa kini, sebagai pertimbangan dan renungan, sehingga tidak melulu berkaca kepeda konsep Barat dengan demokrasinya. Artinya, ada yang banyak perlu dikoreksi dari konsep yang dijalankan sekarang dalam politik.

Walaupun demikian, bukan berarti yang datang dari luar Islam kemudian harus ditampik. Meminjam istilah Dr Hamid Fahmy Zarkasyi, adaptasi perlu dijalankan, bukan adopsi.

Pada peringkat ini perlu namanya afirmasi dan negasi; afirmasi dari segala yang baik dan negasi terhadap yang jelek, lebih-lebih dalam pandangan alam.

Al-Baqillani baru satu tokoh yang membentangkan masalah kepemimpinan. Masih banyak tokoh Islam yang meninggalkan khazanah keilmuannya tentang kepemimpinan dalam Islam yang seyogyanya menjadi referensi politik bagi umat Islam saat ini. Ini penting sebab identitas secara politik sangat perlu bagi umat Islam. Jika Barat begitu susahnya mencari identitas dirinya dalam peradaban, maka Islam sebenarnya tidak susah, sangat mudah menemukan identitasnya dalam segala bidang, termasuk politik. Hanya, semuanya itu bergantung kepada kita semua, mau meneruskan identitas itu atau kita terus bubar. [Disarikan dari hasil Diskusi Insists-Malaysia, bersama Hasan Darojat, mahasiswa ISTAC-IIUM. Presentasi Hasan Darojat ini bisa dibaca di Jurnal, vol. V No. 2, 2009/hidayatullah.

Teori Gempa Di Masa Kejayaan Pembangunan Islam

Fenomena alam berupa gempa bumi, sejak awal menjadi kajian ilmuwan Muslim. Al-Kindi, misalnya, yang merupakan ahli matematika, fisika, dan astronomi, membuat tulisan berjudul The Science of Winds in the Bowels of the Earth, which Produce Many Earthquakes and Cave-in.

Ibnu Sina, yang dikenal sebagai seorang ilmuwan dan dokter, juga menyampaikan pandangannya mengenai gempa bumi. Ia mengutip sejumlah ilmuwan Yunani yang mengaitkan gempa bumi dengan tekanan gas yang tersimpan di dalam bumi dan kemudian berusaha keluar dari bumi.

Namun, Ibnu Sina tak sepenuhnya sependapat dengan pandangan para ilmuwan Yunani tersebut. Jadi, ia menentang teori mereka dengan memberikan penjelasan dari pemikirannya sendiri dan mengembangkan teorinya sendiri.

Ibnu Sina mengungkapkan, gempa terkait dengan tekanan besar yang terperangkap dalam rongga udara yang ada di dalam bumi. Tekanan ini, bisa datang dari air yang masuk ke dalam rongga bumi dan menghacurkan sejumlah bagian bumi.

Dalam esai panjangnya, Ibnu Sina memberikan sebuah metode untuk mengatasi dampak gempa bumi. Ia menyarankan masyarakat untuk menggali dan membuat sumur di tanah, supaya tekanan gas menurun. Sehingga, getaran akibat gempa bumi berkurang.

Beberapa sejarawan mengatakan, setelah abad ke-10 dan ke-11 teori para ilmuwan Muslim tentang penyebab gempa lebih menekankan pada sisi religius. Mereka berpikir bahwa gempa merupakan fenomena alam yang telah ditetapkan Tuhan.

Namun, pendapat lain mengemuka, para ilmuwan Muslim mengadopsi filsafat logika dan fisik, untuk menjelaskan penyebab terjadinya gempa bumi sejak abad ke-10. Pendekatan itu, agak dihindari menjelang periode berakhirnya kekuasaan Mamluk.

Sejumlah ilmuwan lain dalam periode klasik Islam yang menulis tentang gempa bumi, antara lain, Al-Biruni, Ibnu Rusyd, Jabir bin Hayyan. Mereka membahas gempa bumi dalam buku yang mereka tulis dalam bidang meteorologi, geografi, dan geologi.

Pada masa-masa berikutnya, kajian ilmiah tentang gempa bumi terus dilakukan oleh ilmuwan Muslim. Abu Yahya Zakariya' ibn Muhammad al-Qazwini, ahli geografi, astrnomi, fisika, abad ke-12 asal Persia, menyampaikan teorinya mengenai gempa.

Menurut Al-Qazwini, gempa bumi disebabkan oleh adanya gas bertekanan tinggi sampai menjadi cairan, kemudian berusaha keluar dari dalam bumi sehingga proses ini, selain menyebabkan gempa juga gunung berapi.

Ilmuwan yang sezaman dengan Al-Qazwini, yaitu Al-Tifashi, menambahkan, penumpukan gas menyebabkan tekanan terhadap bumi dan akhirnya menimbulkan gempa. Ia berpendapat, tekanan gas yang sangat kuat menggerakkan kerak bumi.

Ada pula ilmuwan lain, Al-Nuwayri yang hidup sekitar tahun 1373, mengadopsi teori pseudo-fisik yang mengatakan setiap wilayah di bumi memiliki kaitan dengan pegunungan Qaf, yang mengelilingi bumi. Saat Tuhan ingin menghukum manusia, Dia menggerakkan kaitan itu.

Sementara, studi awal mengenai bagaimana bertahan dari gempa bumi, ditulis seorang ilmuwan Mesir, Jalaluddin Al-Suyuti, yang hidup sekitar tahun 1505. Ia tak mengikuti teori fisik tentang gempa bumi yang diadopsi Al-Kindi, Ibnu Sina, Al-Qazwini, maupun Al-Tifashi.

Sebaliknya, Al-Suyuti malah menerima teori pseudo-fisik gunung Qaf dan menceritakan bahwa gempa bumi dan bencana alam lainnya adalah hukuman dari Tuhan terhadap orang-orang berdosa. Dia kemudian membuat catatan 130 gempa bumi yang terjadi di berbagai wilayah Muslim.

Rupanya karya Al-Suyuti menginspirasi karya-karya orang lain untuk menuliskan gempa bumi. Muridnya, Al-Dawudi, menambahkan informasi tentang delapan gempa bumi yang terjadi di Kairo, Mesir. Murid lainnya, Abdulqadir Al-Syadzili, hidup pada 1528, melakukan hal sama.

Al-Syadzili menuliskan pengalamannya saat mengalami dua gempa bumi. Lalu, ada Badr Al-Din Al-Ghazzi, yang pada 1576 memberikan informasi tentang tiga gempa bumi yang terjadi di Damaskus, Suriah. Najm Al-Din Al-Ghazzi menuliskan 12 gempa bumi di sejumlah tempat.

Menurut laman Muslimheritage, dari tinjauan catatan seismik di Arab, menujukkan adanya fenomena langit dan fenomena di permukaan bumi yang menyertai gempa bumi. Pada waktu itu terjadi gempa bumi yang disebabkan oleh sebuah komet atau meteor.

Pada tahun 1500 terjadi gempa bumi ringan di Kairo. Kala itu orang-orang melihat bintang-bintang di langit tercerai-berai. Pada tahun 1504 terlihat bintang jatuh di Yaman yang disertai dengan serpihan-serpihan materi bintang, lalu diikuti dengan terjadinya gempa bumi.

Pada tahun 1511 terdapat meteor yang terbang dari timur menuju ke utara dan itu diikuti oleh gempa bumi yang berlangsung selama tiga bulan di Kota Moza, Yaman. Sejumlah catatan pada masa itu juga menuliskan bahwa gerhana dan badai pun menyertai terjadinya gempa bumi.

Tak heran jika kemudian mereka menganggap indikasi akan datangnya gempa bumi jika ada meteor, gerhana, atau fenomena alam lainnya yang terjadi. Bahkan, astrologi juga terkadang ikut digunakan untuk memprediksi terjadinya gempa bumi.

Merespons gempa
Selain mengurai kajian tentang gempa bumi, ilmuwan Muslim juga menyampaikan pandangannya mengenai apa yang bisa dilakukan masyarakat dalam menghadapi gempa. Termasuk bagaimana mendirikan bangunan agar bisa tahan gempa.

Di daerah-daerah yang rawan gempa, arsitek-arsitek Muslim menyampaikan serangkaian teori. Mereka menegaskan, agar bagunan memiliki fondasi yang kuat dan dalam. Dinding juga harus memiliki dimensi besar untuk menyangga kubah ketika terjadi gempa.

Dengan demikian, bangunan tidak runtuh saat digoyang gempa. Ini terbukti dengan masih tegak berdirinya monumen-monumen Islam yang ada di Kairo. Bangunan-bangunan itu mampu bertahan dari gempa besar pada 1992 dan masa-masa sebelumnya.

Pada masa kekuasaan Islam, masyarakat bereaksi secara berbeda-beda saat menghadapi gempa. Sejumlah orang segera menuju masjid dan gereja untuk berdoa. Namun, sebagian orang lainnya bergegas menuju area terbuka, kemudian membangun tenda pengungsian.

Ini terjadi pada 1431, saat gempa melanda Granada dan juga sejumlah gempa yang terjadi di Levant. Pada 1504, saat Kota Zayla, Yaman, diguncang gempa, warganya pergi ke area terbuka, yaitu pantai. Di sejumlah wilayah rawan gempa, mereka membangun gubuk kayu.

Gubuk tersebut dibangun di disamping rumah mereka, yang biasanya digunakan untuk bermalam saat terjadi gempa. Sebagian lain menghabiskan malam di area terbuka atau perahu.

Saat Bencana Memantik Penyakit

Bencana alam, seperti gempa bumi, seringkali disertai dengan merebaknya wabah penyakit atau epidemik. Biasanya, kondisi ini dipicu oleh mayat yang tak segera dikuburkan atau kamp-kamp pengungsian di lokasi yang tak dapat dikatakan higienis.

Sejumlah ilmuwan Muslim juga menorehkan buah pemikirannya dalam karya-karya mereka, terkait dengan merebaknya epidemik ini. Sebut saja, Qusta Ibnu Luqa, hidup pada abad ke-9, yang menuliskan buku yang disebut Contagion atau infeksi.

Dalam karyanya itu, ia menggambarkan bagaimana penyakit menular
dari seseorang yang sakit ke orang yang sehat. Ibnu Luqa menyatakan bahwa proses tersebut dipengaruhi oleh udara sekitar dan infeksi. Ia menjelaskan pula tentang penyakit yang disebabkan oleh angin.

Biasanya, para pengungsi akibat bencana alam, juga diterpa angin kencang hingga membuat mereka menderita penyakit. Pada abad ke-10, ada ilmuwan lain yang menulis mengenai epidemik, yaitu Al-Tamimi. Ia memberikan sejumlah penjelasan.

Di antaranya adalah prosedur higienis untuk menghindari infeksi saat terjadi epidemik. Ia juga memberikan penjelasan bagaimana cara mengatasi penyakit yang dibawa oleh udara. Abu Sahl Al-Masihi juga memberikan kontribusi besar.

Al-Masihi hidup di masa yang sama dengan Al-Tamimi. Sejumlah kalangan menilai, buku karya Al-Masihi lebih perinci dibandingkan karya Al-Tamimi. Dalam manuskripnya sebanyak 19 halaman, ia mengelompokkan penyakit epidemik, penyebabnya, dan cara pengobatannya.

Karyanya, dibagi menjadi empat bagian di antaranya adalah bagaimana epidemik mengganggu tubuh manusia dan pencegahan serta pengobatan terhadap setiap jenis epidemik. Ia juga memberikan penjelasan mengenai perbedaan antara epidemik (al-Waba) dan endemik.

Menurut Al-Masihi, ada tiga penyebab terjadinya epidemik, yaitu kelembaban dan kehangatan udara yang berlebihan, udara kering yang berlebihan, dan udara sedang berubah ke dalam sebuah kondisi yang abnormal./suaramedia.

Yaqut Al-Hamawi, Ahli Geografi Muslim

Misteri sebuah tempat, memikat hati Yaqut ibn-‘Abdullah al-Rumi al-Hamawi. Ilmuwan yang lahir di Asia Kecil ini, kemudian menelusuri dan menyingkap beragam tempat yang ia kun jungi dan dikisahkan oleh orang-orang yang ia jumpai setelah melakukan sebuah perjalanan.

Ketertarikan Yaqut, demikian ia sering dipanggil, membuahkan sejumlah karya dalam bidang yang kemudian akrab disebut geografi. Paling tidak ada dua karya yang melambungkan namanya, yaitu Mu’jam al-Udaba atau Kamus Orang-orang Terpelajar.

Sedangkan buku lainnya yang secara khusus membicarakan tentang bidang yang ia kuasai, geografi, berjudul Mu’ajam al-Buldan atau Kamus Negara-negara. Dua karya tersebut memiliki ketebalan hingga 33.180 halaman.

Mu’jam al-Buldan, merupakan sebuah ensiklopedia geografi yang lengkap, yang memuat hampir seluruh wilayah yang ada di abad pertengahan dan kejayaan Islam. Dalam menjelaskan sebuah tempat, Yaqut memasukkan hampir seluruh aspek yang terkait tempat tersebut.

Yaqut menguraikan mengenai aspek arkeologi, etnografi, antropologi, ilmu alam, geografi, dan koordinat dari setiap tempat yang ia jelaskan dalam ensiklopedianya itu. Bahkan, ia juga memberikan nama untuk setiap kota, menginformasikan monumen dan bangunan megah di kota itu.

Tak lupa pula, Yaqut mengisahkan tentang sejarah sebuah tempat, populasi, hingga figur atau sosok ternama dari tempat atau kota yang ia jelaskan. Untuk mendapatkan informasi perinci yang ia gunakan dalam ensiklopedianya itu, ia melangkahkan kakinya ke sejumlah wilayah.

Yaqut bepergian ke Persia, Arabia, Irak, dan Mesir. Ia sendiri saat itu menetap di Allepo, Suriah. Ia membangun relasi dan pertemanan dengan para ahli geografi dan sejarawan. Ia mengorek kumpulan fakta dari mereka dan juga para pelancong.

Namun, hal yang paling penting dan ini menjadi ruh dalam ensiklopedianya itu, ia menuliskan fakta-fakta yang dikumpulkan dari perjalananperjalanan yang ia lakukan sendiri dan dari orang yang ia temui saat ia melakukan sebuah perjalanan.

Selain itu, Yaqut juga sepenuhnya memahami dengan beragam konsep para ahli geografi Muslim sebelumnya bahwa mereka tak hanya menguasai geografi, tetapi juga mengaitkannya dengan sejumlah bidang ilmu lainnya. Seperti, matematika dan fisika.

Semua itu, Yaqut tuangkan pula dalam karyanya. Bahkan, dalam bab pendahuluan di dalam ensiklopedianya itu, ia terlebih dahulu membahas mengenai istilah yang ia gunakan dalam karyanya itu dan istilah-istilah geografi yang tersebar di dalamnya.

Untuk melengkapi dan memperkaya data, Yaqut memanfaatkan hasil kerja dari ilmuwan-ilmuwan sebelumnya. Namun, ia bersikap kritis terhadap data-data yang ia gunakan. Ia melakukan koreksi atas data yang ingin ia gunakan jika memang diperlukan.

Bahkan, Yaqut dikenal sebagai ilmuwan yang sangat ketat dengan data dan fakta yang ingin ia gunakan dalam karyanya. Hasil kerjanya, merupakan akhir dari sebuah proses ketat yang ia lakukan. Semua data dan fakta ia teliti. Fakta yang dinilai tak valid, ia buang.

Yaqut sangat berpegang pada akurasi dan ketelitian informasi. Tak heran jika dalam laman Muslimheritage, disebutkan bahwa Mu’jam al-Buldan hingga sekarang dianggap sebagai sumber referensi yang sangat bagus.

Dalam karyanya itu, Yaqut juga melihat adanya hubungan erat antara geografi dan sejarah. Ia menekankan pula peran ortografi atau sistem penulisan dari tempat-tempat yang ia gambarkan dalam karya ensiklopedianya itu.

Selain itu, pengaturan alfabet dalam karyanya, merupakan upaya untuk memberikan ejaan yang tepat mengenai nama-nama tempat, posisi geografisnya, batas, pegunungan, padang pasir, laut, dan pulau-pulau yang ada di suatu tempat.

Yaqut juga menyematkan nama pada setiap tempat, nama aslinya, termasuk anekdot, dan fakta-fakta penting lainnya yang terkait tempat yang ia jelaskan itu. Ia memberikan catatan pula, para penulis terdahulu tak memiliki perhatian memadai soal ketepatan ejaan sebuah tempat.

Tak hanya itu, Yaqut juga menilai mereka menyebutkan lokasi yang tepat mengenai sejumlah tempat. Ini membuat banyak ilmuwan salah mendapatkan informasi dari catatan-catatan yang dihasilkan oleh sejumlah ilmuwan terdahulu.

Yaqut juga menegaskan, karya ensiklopedianya itu tak hanya bermanfaat bagi Muslim dalam bepergian. Apa yang ia tulis juga terinsipirasi ajaran Alquran. Ia yakin bahwa karyanya bukan hanya berguna bagi para pelancong, tapi juga bagi para hakim, teolog, sejarawan, dan dokter.

Dalam karya lainnya, yang dalam bahasa Inggris berjudul Dictionary of Men of Letters, Yaqut menuliskan pandangannya. Ia membedakan antara orang terpelajar dengan ilmuwan. Ia mengatakan, orang terpelajar memilih dari segala bahan kemudian menyusunnya.

Sedangkan ilmuwan, ungkap Yaqut, adalah seseorang yang memilih cabang ilmu pengetahuan tertentu kemudian mengembangkannya. Ia juga menekankan pada kegunaan atau manfaat. Dalam konteks ini, ia mengutip seorang ilmuwan bernama Ali Ibnu al-Hasan.

Jika ilmuwan tak berpikir tentang kegunaan dan hasil kerja, ujar Yaqut, itu akan menjadi awal bagi terwujudnya manipulasi terhadap ilmu pengetahuan. Dengan persepsinya itu, ia kemudian menuntaskan Mu'jam al-Udaba.

Di sisi lain, Yaqut juga berpandangan bahwa ilmu di atas kekuasaan. Ia menuliskan pandangannya itu dalam Mu'jam al-Udaba, melalui sebuah kisah Khalifah Al-Mutamid. Suatu pagi, khalifah berjalan di taman dan mengangkat Thabit Ibnu Qurra dengan tangganya.

Lalu, Khalifah Al-Mutamid, menjatuhkan Thabit secara perlahan. Dan ini membuat Thabit bertanya. Ada apa tuan? tanya Thabit. Khalifah pun kemudian menjawab, tanganku ada di atasmu, namun ilmu pengetahuan lebih tinggi lagi, katanya.

Dalam karyanya tersebut, Yaqut ingin menjelaskan bahwa dalam persepsi Muslim, tingkatan ilmu pengetahuan lebih tinggi dibandingkan kekuatan politik.

Kisah Yaqut

Yaqut lahir dari keluarga berdarah Yunani. Meski ia lahir di wilayah Asia Kecil, ia lebih dikenal sebagai ilmuwan yang berasal dari Suriah. Sebab, ia lebih banyak menghabiskan masa hidupnya di wilayah tersebut. Ia hidup antara 1179 hingga 1229 M.

Yaqut pernah menja lani kehidupan sebagai seorang budak. Saat itu, berkecamuk perebutan kekuasaan antara Kerajaan Seljuk dan Byzantium. Banyak orang yang kemudian ditangkap dan dijual kepada orang kaya sebagai budak.

Saat itu, Yaqut jatuh ke tangan seorang pedagang buku dari Baghdad. Namun, pedagang tersebut akhirnya membebaskan Yaqut dan memberinya pendidikan yang memadai. Namun, ia juga masih terus ikut bersama pedagang tersebut, ia menjadi sekretaris mantan tuannya.

Bahkan, Yaqut juga ikut berkeliling ke sejumlah wilayah bersama pedagang buku tersebut. Ia pun kemudian menjadi penulis. Bahkan, ia menguasai bahasa Arab. Ia tertarik pula dengan geografi. Pengalamannya dalam mengunjungi sejumlah tempat membuatnya tertarik menuliskannya.

Yaqut akhirnya sampai ke Kota Merv, Turkmenistan, sebuah kota yang dikenal sebagai gudangnya ilmu pengetahuan dan ilmuwan. Ia sangat menyukai kota tersebut dan tinggal di sana selama dua tahun. Ia senang mengunjungi perpustakaan yang ada di masjid dan madrasah.

Menurut Yaqut, di satu perpustakaan yang ada di masjid agung di Merv, terdapat 12 ribu judul buku. Ia betah berkutat di perpustakaan itu. Ia bahkan diizinkan petugas perpustakaan membawa 200 buku dalam satu waktu ke dalam sebuah ruangan di perpustakaan itu.

Pada 1218, Yaqut pindah ke Khiva dan Balkh. Namun, ini merupakan saat yang salah baginya untuk pindah. Sebab, pada awal 1220-an, tentara Mongol bergerak ke wilayah barat. Seluruh wilayah timur Islam dihancurkan.

Hanya dalam kurun waktu satu tahun, Mongol berhasil menguasai bagian-bagian wilayah Islam yang subur dan makmur. Kemudian, mereka menghancurkan semua yang berharga. Anak lelaki Jengiz Khan, Jagtai, menguasai dan menghancurkan Otrar.

Sedangkan, tentara Jengiz Khan menyerang Bukhara, Samarkand, dan Balkh. Mereka juga bergerak menuju Khurasan. Merv dan Nishapur akhirnya takluk juga. Dalam penyerangan itu, Yaqut hampir tertangkap. Namun, akhirnya, ia berhasil lolos dengan pakaian yang melekat di tubuhnya.

Beruntung, Yaqut juga berhasil membawa manuskrip-manuskrip yang dimilikinya. Ia bergerak menyeberangi Persia ke Mosul. Dari Mosul, ia ke Aleppo, Suriah, di mana ia tinggal di sana. Selama tinggal di sana, ia sempat melancong ke beberapa tempat, seperti Irak./suaramedia.




Kontribusi Peradaban Islam Dalam Kedokteran Gigi

Ajaran Islam memerintahkan agar umatnya senantiasa menjaga kesehatan gigi dan mulut. Dalam salah satu haditsnya, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: ''Seandainya tidak akan merepotkan umatku, maka aku akan perintahkan kepada mereka untuk membersihkan gigi pada setiap akan shalat.''(HR Bukhari dan Muslim).
Islam memahami bahwa menjaga kesehatan gigi dan mulut akan sangat menentukan kualitas hidup manusia. Tak heran jika seabad setelah Rasulullah SAW wafat, para dokter Muslim di era keemasan terdorong untuk turut mengembangkan ilmu kedokteran gigi (dentistry). Sejatinya, pengobatan gigi telah diterapkan manusia dari peradaban Lembah Indus bertarikh 7.000 hingga 5.500 SM.

Namun, ilmu kedokteran gigi justru berkembang pesat pada era kejayaan peradaban Islam. Henry W Noble (2002) dalam Tooth transplantation: a controversial story, History of Dentistry Research Group, Scottish Society for the History of Medicine mengakui bahwa para dokter Muslim di zaman kekhalifahan merupakan perintis dalam pengembangan ilmu kedokteran gigi.

Peradaban Barat saja baru mengembangkan ilmu kedokteran gigi secara khusus pada abad ke-17 M. Buku pertama tentang ilmu kedokteran gigi di Barat baru hadir tahun 1530 M bertajuk "Artzney Buchlein". Buku teks kedokteran gigi dalam bahasa Inggris baru muncul tahun 1685 karya Charles Allen berjudul Operator for the Teeth.

Bahkan, masyarakat Amerika baru mengenal adanya dokter gigi pada abad ke-18 M. John Baker merupakan dokter pertama yang praktik di benua itu. Baker merupakan dokter gigi yang berasal dari Inggris. Amerika baru memiliki dokter gigi sendiri pada tahun 1779 M bernama Isaac Greenwood.

Lucunya, peradaban Barat mengklaim Pierre Fauchard - berkebangsaan Prancis yang hidup di abad ke-17 sebagai "bapak ilmu kedokteran gigi modern". Padahal, menurut Noble, 700 tahun sebelum Fauchard hidup, seorang dokter Muslim bernama Abu al-Qasim Khalaf ibn al-Abbas Al-Zahrawi alias Abulcasis (930 M - 1013 M) telah sukses mengembangkan bedah gigi dan perbaikan gigi.

Keberhasilannya yang telah memukau para dokter gigi modern itu tercantum dalam Kitab Al-Tasrif. Kitab itu tercatat sebagai teks pertama yang mengupas bedah gigi secara detail. "Dalam kitabnya itu, Abulcasis juga secara detail menggambarkan keberhasilannya dalam melakukan penanaman kembali gigi yang telah dicabut," papar Noble.

Al-Zahrawi juga tercatat sebagai dokter yang mempelopori penggunaan gigi palsu atau gigi buatan yang terbuat dari tulang sapi. Kemudian geligi palsu itu dikembangkan lagi mengunakan kayu - seperti yang digunakan oleh presiden pertama Amerika Serikat, George Washington 700 tahun kemudian.

Sumbangan penting dokter Muslim di era kejayaan dalam pengembangan ilmu kedokteran juga diungkapkan Salma Almahdi (2003) dalam tulisannya berjudul Muslim Scholar Contribution in Restorative Dentistry yang dimuat dalam Journal of the International Society for the History of Islamic Medicine. Menurut Almahdi, dokter gigi Muslim dari abad ke-10 M lainnya yang mengembangkan dentistry adalah Abu Gaafar Amed ibnu Ibrahim ibnu Abi Halid al-Gazzar.

Dokter gigi asal Afrika Utara itu memaparkan metode perbaikan gigi secara detail dalam Kitab Zad al-Musafir wa qut al-Hadir. Kitab itu lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebagai Viaticum oleh Constantine the African di Universitas Salerno - yang berada di Selatan Italia. "Kitab yang ditulis Al-Gazzar merupakan yang pertama yang mengupas tentang perawatan gigi busuk/rusak," papar Almahdi.

Dalam kitabnya, Al-Gazzar menyatakan bahwa hal pertama yang perlu dilakukan untuk mengobati gigi yang busuk adalah membersihkannya. Kemudian, papar dia, gigi itu diisi dengan gallnut, madu, kemenyan, terbinth yang mengandung damar, pohon cedar yang mengandung damar, pellitory atau pengasapan dengan akar colocynthis.

Al-Gazzar pun merekomendasikan senyawa arsenik untuk gigi yang berlubang. Campuran ini juga mampu mengatasi pembusukan gigi serta mengendurkan dan meredakan ketegangan syaraf. Dokter Muslim lainnya yang memberi sumbangan penting bagi ilmu kedokteran gigi adalah Ibnu Sina lewat karyanya yang sangat fenomenal bertajuk he Canon of Medicine. Menurut Almahdi, Ibnu Sina terpengaruh oleh Al-Gazzar dalam pengobatan gigi.

Meski begitu, Ibnu Sina mengembangkan sendiri pengobatan gigi dengan caranya sendiri. Baik Al-Gazzar maupun Ibnu Sina sepakat bahwa kebusukan pada gigi disebabkan oleh "cacing gigi". Namun pendapat itu dipatahkan oleh dokter Muslim lainnya dari abad ke-12 M bernama Gaubari. Dalam Book of the Elite yang ditulisnya, Gaubari menyatakan bahwa dalam kenyataannya cacing gigi tak pernah ada. Sejak abad ke-13 M, teori cacing gigi akhirnya tak lagi diterima dalam kedokteran Islam.

Kontribusi peradaban Islam lainnya yang tak kalah penting dalam kedokteran gigi diberikan oleh Abu Bakar Muhammad Ibnu Zakaria Ar-Razi. Dokter legendaris di era keemasan peradaban Islam itu juga secara khusus mengembangkan perawatan kesehatan gigi. Ar-Razi terbilang sebagai dokter Muslim pertama yang memberi sumbangan bagi ilmu kedokteran gigi.

Menurut Almahdi, Ar-Razi mencoba merekomendasikan metode yang dikembangkan Galen - dokter dari peradaban Yunani - dalam melepas gigi rusak dengan cara dibor. Untuk mengurangi rasa sakit saat gigi dibor, dokter terkemuka di kota Baghdad itu menganjurkan agar lubang gigi ditetesi minyak.

Selain mengkaji masalah gigi, dokter Muslim di era kekhalifahan pun sudah mengkaji kesehatan mulut, salah satunya soal lidah. Organ penting yang dibiasa digunakan untuk mengunyah, menelan dan berbicara itu mendapat perhatian khusus dari Ibnu Sina. Dalam Canon the Medicine, Ibnu Sina mengkaji berbagai penyakit lidah dan penyembuhannya.

Menurut Almahdi, dalam kitabnya yang sangat lengkap itu Ibnu Sina menerangkan tentang anatomi lidah serta penyakit-penyakit yang sering dialami organ lidah baik secara sensorik maupun motorik. Ibnu Sina membahas masalah lidah secara mendalam dalam empat belas bab.Betapa sumbangan peradaban Islam bagi dunia kedokteran sungguh begitu luar biasa. Namun, kontribusi penting para dokter Muslim itu kerap dinihilkan dan disembunyikan peradaban Barat. Tak heran, bila pencapaian para ilmuwan Muslim di era kejayaan itu juga tak diketahui masyarakat Islam di era modern ini. Sungguh ironis memang.

Siwak, Pembersih Gigi Warisan Rasulullah SAW
Membersihkan gigi merupakan sunah yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW biasa membersihkan giginya dengan siwak. Dalam hadits dsebutkan Rasulullah SAW biasa menggosok giginya dengan siwak setiap bangun dari tidur. Hudaifah RA meriwayatkan: "Kapan pun Rasulullah SAW bangun dari tidur, ia akan menggosok giginya dengan siwak.

" (HR Bukhari dan Muslim).Selain setelah bangun tidur, dalam hadits lainnya Nabi Muhammad SAW juga biasa membersihkan giginya dengan siwak sesaat sebelum berwudhu. Aisyah RA meriwayatkan: Kami biasa menyiapkan sebuah siwak dan air untuk wudhu bagi Rasulullah SAW kapan pun Allah menghendaki beliau bangun dari tidur malam, beliau akan mebersihkan giginya dengan siwak, mengambil wudhu, dan lalu mendirikan shalat. (HR Muslim).

Bahkan dalam hadits lainnya, Rasulullah SAW secara khusus menyarankan umatnya untuk menggunakan siwak. Anas RA meriwayatkan: Rasulullah SAW bersabda, "Aku menyaran agar kalian menggunakan siwak". (HR Bukhari). Siwak merupakan alat pembersih gigi yang diwariskan Rasulullah SAW bagi umatnya. Bukan tanpa alasan Rasulullah SAW menyarankan umatnya untuk menggunakan siwak berbentuk batang yang diambil dari akar dan ranting segar tanaman arak (salvadora persica). Sebuah penelitian ilmiah pada tahun 2003 membuktikan keunggulan siwak dibandingkan pasta gigi biasa.

Kayu siwak memiliki keunggulan karena terbukti mengandung mineral-mineral alami yang dapat membunuh bakteri, menghilangkan plaque, mencegah gigi berlubang serta memelihara gusi. Siwak pun diketahui memiliki kandungan kimiawi yang bermanfaat, seperti Antibacterial acids, seperti astringents, abrasive, dan detergent yang berfungsi untuk membunuh bakteri, mencegah infeksi dan menghentikan pendarahan pada gusi.

Selain itu, siwak juga mengandung zat kimia seperti Klorida, Pottasium, Sodium Bicarbonate, Fluoride, Silika, Sulfur, Vitamin C, Trimethyl amine, Salvadorine, Tannins, dan beberapa mineral lainnya yang berfungsi untuk membersihkan gigi, memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi. Siwak pun mengandung minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau yang segar. Zat inilah yang membuat siwak dapat menghilangkan bau pada mulut.

Sebagai pasta gigi alami, siwak juga mampu mencegah pembentukan karang gigi. Zat anti pembusukan yang terkandung dalam siwak diyakini dapat menurunkan jumlah bakteri di mulut dan mencegah proses pembusukan.Kelebihan lainnya dari siwak adalah kemampuannya untuk turut merangsang produksi saliva (air liur) lebih. Apalagi saliva merupakan organik mulut yang melindungi dan membersihkan mulut.

Atas dasar itulah perusahaan pasta gigi di dunia menyertakan bubuk siwak ke dalam produknya. Pada tahun 1986 dan 2000, organisasi kesehatan se-dunia merekomendasikan penggunaan siwak dalam sebuah konsensus internasional. Dr Otaybi dari Arab Saudi dalam penelitian yang dilakukannya membuk./suaramedia.

Dahsyatnya Pukulan Musa


Tenaga yang dibutuhkan untuk membelah lautan sangat besar hingga mampu membelah lautan yang jaraknya hingga mencapai beberapa kilometer dan kedalaman sekitar 800 meter.

Di manakah peristiwa ditenggelamkannya Firaun dan berapakah tenaga yang dibutuhkan untuk membelah lautan tersebut? Inilah yang menarik perhatian sejumlah peneliti untuk meneliti secara cermat peristiwa yang telah terjadi selama ribuan tahun tersebut.

Alquran sangat jelas memberikan gambaran mengenai peristiwa tersebut. ”Dan (ingatlah), ketika kami belah laut untukmu, lalu kami selamatkan kamu dan kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya, sedang kamu sendiri menyaksikan.” (QS 2: 50).

”Dan, kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Firaun dan balatentaranya karena hendak menganiaya dan menindas (mereka). Hingga, bila Firaun itu telah hampir tenggelam, berkatalah dia, ”Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan, melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS 10: 90).
”Dan, sesungguhnya telah kami wahyukan kepada Musa, ”Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari. Maka, buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu. Kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam).” (QS 20: 77).

”Maka, Firaun dengan balatentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka.” (QS 20: 78).
”Lalu, kami wahyukan kepada Musa, ”Pukullah lautan itu dengan tongkatmu. Maka, terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (QS 26: 63).

Pukulan tongkat Nabi Musa AS yang mampu membelah lautan itu ternyata menarik perhatian para peneliti. Betapa dahsyatnya pukulan itu hingga mampu membelah lautan. Menurut sejarah, peristiwa itu terjadi sekitar 3500 tahun yang lalu. Ada beberapa pakar yang telah mencoba untuk meneliti kembali peristiwa ini berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang ada dan menerbitkannya dalam bentuk buku.

Ketika Nabi Musa AS dan pengikutnya akan menyeberangi lautan, konon lokasi penyebarangan itu berada di Teluk Aqaba di Nuwaybi. Kedalaman maksimum perairan di sekitar lokasi penyeberangan mencapai 800 meter di sisi ke arah Mesir dan 900 meter di sisi ke arah Arab. Sementara itu, di sisi utara dan selatan, lintasan penyeberangan (lihat garis merah) kedalamannya mencapai 1500 meter. Kemiringan laut dari Nuwaybi ke arah Teluk Aqaba sekitar 1/14 atau empat derajat. Sementara itu, dari Teluk Nuwaybi ke arah daratan Arab sekitar 1/10 atau enam derajat. Dan, jarak antara Nuwaybi ke Arab sekitar 1800 meter (menurut peta dari MSN Encarta sekitar 10 km). Lebar lintasan di mana laut terbelah diperkirakan 900 meter.

Inilah yang menarik para peneliti sehingga mereka berlomba-lomba untuk mengukur gaya yang dibutuhkan sehingga mampu menyibak air lautan tersebut menjadi terbelah. Padahal, lebar lintasan mencapai 900 meter dengan jarak 1800 meter pada kedalaman perairan yang rata-rata mencapai ratusan meter untuk waktu yang cukup lama, mengingat pengikut Nabi Musa yang menurut sejarah berjumlah ribuan. (Menurut tulisan lain, diperkirakan jaraknya mencapai tujuh km dengan jumlah pengikut Nabi Musa sekitar 600.000 orang dan waktu yang ditempuh untuk menyeberang sekitar empat jam).

Menurut sebuah perhitungan, diperkirakan bahwa diperlukan tekanan (gaya per satuan luas) sebesar 2.800.000 Newton per meter persegi atau setara dengan tekanan yang diterima jika menyelam di laut hingga kedalaman 280 meter. Atau, jika dikaitkan dengan kecepatan angin, akan melebihi kecepatan angin pada saat terjadi hurikan (hurricane). Atau, jika mengacu kepada perhitungan seorang pakar dari Rusia yang bernama Volzinger, diperlukan embusan angin dengan kecepatan konstan 30 meter per detik (108 km per jam) sepanjang malam. Sungguh, sangat dahsyat dan kerasnya pukulan itu. (sya/berbagai sumber/republika)

islamdigest

Bukti Sejarah dan Arkeologi Gua Ashabul Kahfi di Amman

Beberapa bukti untuk memperkuat Abu Alanda sebagai tempat Gua Ashabul Kahfi, diperkuat dengan sejumlah temuan benda-benda sejarah dan arkeologi.

1. Di gua ini terdapat tulisan pada lengkuangan pintu di dinding sebelah Timur yang menyatakan Masjid diperbaharui pada tahun 117 hijrah yang merujuk kepada zaman Hisham bin Abdul Malik bin Marwan. Ini membuktikan bahwa ketika era kerajaan Umawiah mereka sudah memperharui masjid yang sebelum itu menjadi rumah ibadat nasrani. Kesan yang boleh dilihat ialah binaan mihrab (petunjuk arah kiblat) yang terdapat di atas gua tersebut.

2. Tulisan khat Kufi. Ini membuktikan, masjid kedua di Ashabul Kahfi diperbaharui pada zaman Khomarumiah bin Ahmad Tholun dari kerajaan Abasiah. Masjid kedua yang dimaksudkan ialah masjid yang dibangun berhadapan dengan gua Ashabul Kahfi setelah masjid pertama diwujudkan di atas gua ketika zaman Umawiah.

3. Kesan Nawawis di dalam gua. Nawawis di dalam Mujam Wasit, memberi arti kubur orang nasrani yang mayatnya diletakkan di dalamnya. Pada Nawawis tersebut terdapat bintang segi delapan yang membuktikan tanda zaman kerajaan Rum-Byzantium pada kurun ke-3 masehi. Menjadi adat pada ketika itu, mayat-mayat nasrani akan dikuburkan di dalam bekas batu. Ini tidak mustahil bahawa mereka yang telah menguruskan mayat pemuda tersebut telah mengkebumikan mereka dengan cara dan adat mereka pada ketika itu.

4. Penemuan barangan tembikar, duit tembaga dan perak, lampu dari pelbagai zaman (Umawiah, Abasiah, Turki Uthmaniyyah) di dalam gua tersebut dan sekitarnya. Ia membawa maksud bahawa tempat itu telah dijaga oleh pelbagai zaman yang berlalu.

5. Al-Waqidi di dalam kitabnya Futuhat Sham telah menulis bahawa beliau bersama yang lain telah berhenti di Ain Ma’ berhampiran gua ashabul kahfi. Mereka berhenti di Ain Ma’ tersebut berwudlu, shalat dan tidur di situ sebelum meneruskan perjalanan ke Palestina. Ain Ma’ terletak 70 meter dari gua ashabul kahfi.

6. Pokok zaitun berusia ratusan tahun tumbuh berhadapan gua. Pokok tersebut telah mati dan kesan batang pokok zaitun yang berusia ratusan tahun itu kini ditempatkan di dalam muzium mini di dalam gua.

7. Penemuan tulang di dalam Nawawis. Dikatakan bahwa tulang-tulang tersebut adalah kepunyaan pemuda-pemuda tersebut. (sya/misteridunia.com/republika)
http://islamdigest.net/

Kontroversi Seputar Banjir Besar Di Zaman Nuh

Para ahli dan peneliti sepakat bahwa banjir besar yang terjadi di zaman Nabi Nuh benar-benar ada. Bahkan dalam berbagai agama dan kepercayaan, termasuk kebudayaan beberapa negara, menceritakan kisah banjir besar yang melanda umat Nabi Nuh.

noahsarkHanya saja, perbedaan pendapat muncul seputar peristiwa itu. Setidaknya, ada dua hal yang hingga kini menjadi kontroversi. Pertama, benarkah banjir besar itu menenggelamkan seluruh dunia. Dan, kedua, apakah seluruh hewan yang ada di muka bumi ini naik ke kapal Nabi Nuh AS.

A. Banjir Besar Domestik
Para ahli sepakat bahwa ditenggelamkannya umat Nabi Nuh terjadi karena mereka membangkang atas ajakan Nabi Nuh untuk beriman kepada Allah SWT akibat sebuah banjir yang teramat besar. Berapa besarnya dan seberapa luasnya banjir itu melanda, inilah yang diperselisihkan.

Ada yang berpendapat, banjir besar melanda seluruh dunia. Sehingga, tidak ada satu binatang atau seorang manusia pun yang selamat, kecuali mereka yang berada di dalam kapal tersebut.

Namun, pendapat ini dibantah pihak lain. Menurut Harun Yahya, penulis buku Kisah-kisah dalam Alquran, banjir itu hanya terjadi di wilayah tertentu, tempat umat Nabi Nuh berada. Ia menegaskan, banjir Nabi Nuh terjadi hanya regional (domestik) dan tidak terjadi secara global yang menenggelamkan dunia. Ia mendasarkan pendapatnya ini dengan peristiwa yang menimpa kaum ‘Ad dan Tsamud. Sementara itu, bagi penganut Kristen dan Katolik, mereka memercayai peristiwa itu terjadi secara global. Hal ini sebagamana dimuat dalam kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menyatakan terjadinya banjir bersifat global.

Dalam Alquran disebutkan, ketika Nabi Nuh berdoa: ”Ya Tuhanku, janganlah engkau biarkan seorang pun di antara orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya, jika engkau membiarkan orang-orang kafir itu tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (QS Nuh 25-27).

Namun doa itu, menurut Ibnu Katsir dalam bukunya, Qishash al-Anbiya’, menyatakan, hanya ditujukan untuk umat Nabi Nuh, bukan semuanya. Selain itu, umat yang mendiami bumi ini juga terbatas, dan belum merata seperti sekarang ini.

Menurut para ahli, banjir itu hanya menimpa daerah tertentu. Yaitu, di daerah Mesopotamia yang meliputi wilayah Turki, Iran, dan Rusia. Lantaran, daerah itu berupa cekungan raksasa yang luasnya mencapai sekitar sembilan hingga 10 juta hektare atau sekitar 70 persen dari luas pulau Jawa. Sehingga, banjir saat itu besarnya bisa disamakan seperti lautan karena puncak bukit setinggi 5000 meter tidak akan tampak pada jarak 250 km.

Dari citraan satelit, lingkup banjir pada saat perahu Nabi Nuh mendarat dapat dilacak dengan membuat garis ketinggian dengan menelusuri level yang sama dengan level di mana perahu ditemukan. Dari sana diketahui, luas area banjir sekitar empat juta hektare. Sedangkan, panjang lingkup banjir sekitar 560 km.

B. Sebagian Binatang

Sama halnya dengan banjir besar yang terjadi secara regional atau global, para ahli juga berbeda pendapat. Pendapat pertama, seluruh hewan dan binatang yang ada di muka bumi, naik ke atas kapal secara berpasang-pasangan. Pendapat kedua, menyatakan, hanya sebagian hewan yang naik ke kapal Nabi Nuh. Penjelasan mengenai agar hewan dinaikkan ‘hanya’ sepasang, telah mengindikasikan tidak semuanya dinaikkan ke kapal.

Bahkan, sejumlah pakar menyatakan, jikalau seluruh hewan dan binatang naik ke kapal, bagaimana mungkin binatang Bison yang ada di Amerika, Komodo di Indonesia, Kanguru di Australia, Panda di Cina, bisa berkumpul dalam waktu singkat ke dalam kapal Nabi Nuh. Selain itu, bagaimana mengumpulkan berbagai jenis serangga, semut, nyamuk, laba-laba, dan lainnya secara berpasangan. Sementara, umat Nabi Nuh AS belum diberi kemampuan untuk membedakan jenis kelamin serangga antara jantan dan betina. Wa Allahu A’lamu. (sya/berbagai sumber/republika)

sumber : islamdigest

Masjid Raya Cipaganti, Bandung: Masjid Klasik di 'Banana Street'

Masjid Kaum Cipaganti, atau yang sekarang lebih dikenal sebagai Masjid Raya Cipaganti, Bandung, merupakan saksi sejarah tegaknya Islam di masa pendudukan Belanda Terletak di jalan Cipaganti 85, Masjid Raya Cipaganti merupakan tempat ibadah umat Islam pertama yang berada di kawasan eliat Een Westerns Enclave ( Koloni pemukiman orang Barat).