NII Dinilai Rekayasa Rezim Pemerintah Berkuasa dan Bukan Gerakan Islam

Wartaislam.com - Fenomena cuci otak (brain wash) kembali menjadi perhatian publik, menyusul hilangnya sejumlah orang yang diduga menjadi korbannya. Ada dugaan, isu yang mengusung pendirian Negara Islam Indonesia (NII) merupakan bagian politik rezim yang berkuasa.

"Yang pasti, cuci otak NII bukan merupakan gerakan Islam. NII itu gerakan politik yang ujung-ujungnya pada kekuasaan," kata Pembantu Rektor II IAIN Sunan Ampel, Surabaya Prof Dr. Abdul A’la, Surabaya, Kamis, 21 April 2011.

Dikatakan Abdul A'la, isu global tersebut sengaja digulirkan dengan skenario metode cuci otak. Padahal, doktrin NII dengan cuci otak sangat tidak sesuai dengan ajaran Islam. Terkait itu, pemerintah diminta lebih tegas menyikapi persoalan yang terus bergulir dan sudah menggunakan simbol agama ini.

"Pemerintah menurut saya memang tidak tegas," lanjut lelaki yang menghabiskan studi S3-nya di UIN Jakarta, jurusan Teologi Islam itu.

Lebih jauh Abdul A'la menguraikan, simultan yang dimasukkan dalam model rekrutmen anggota tidak jauh beda dengan gerakan NII yang pernah tumbuh sebelumnya pada tahun 1991-an silam. Ketidaktegasan pemerintah tersebut terlihat dari proses pembiaran yang terus menggelinding pada proses cuci otak tersebut.

"Kalau kita tilik, sebenarnya ada tarik ulur antar kepentingan politik rezim penguasa saat ini. Metode ini memiliki korelasi dengan perjuangan Kahar Muzakar, Kartosuwiryo," urainya.

Pemikiran tersebut, tidak jauh beda dengan paparan yang disampaikan aktifis Islam, Zulqornaen. Lelaki berjenggot ini mengatakan, program cuci otak merupakan konsep dalam skenario besar pemerintah.

Zulqornaen malah menduga itu adanya campur tangan Badan Intelijen Negara (BIN) dalam proses doktrinisasi tersebut.

"Tidak ada yang tidak terkonsep dalam sebuah tujuan. Dan, model seperti ini (cuci otak) tidak lepas dari sebuah pekerjaan intelijen. Dan, tujuan cuci otak sangat beragam," ungkap Zulqornaen.

Zul mengingatkan, sebenarnya secara institusi, NII sudah tidak lagi ada di bumi Indonesia. Namun, secara ideologi, masih ada pengikut dan pelaku yang memang menginginkan adanya perubahan dalam status negara berdasarkan syariat Islam.

"Yang paling ditakutkan adalah, NII ini akan bermetafora dan menjadi sebuah jaringan mengakar ke Al Qaidah. Dan itu akan terjadi jika tidak segera dilakukan antisipasi dini," tegas Zul.

Dia kemudian menyarankan, perlu ada pemahaman secara kaffah dalam mempelajari sebuah ajaran, khususnya Islam. Selain itu, butuh kecermatan dalam memahami substansi dari modus cuci otak.

Disebutkan, yang patut disoroti adalah doktrin yang berbalut agama. Karena untuk bisa memahami sebuah ajaran dibutuhkan waktu yang tidak sedikit apalagi untuk memahami pokok dasar beragama.

"Yang ini lain, cuci otak ini sifatnya instan untuk bisa mengendalikan pengikutnya," katanya.

Dan, tips yang bisa dipakai menangkal cuci otak adalah dengan mencermati penyamaran cuci otak bermodus agama. Hal lain yang harus diketahui adalah tentang realita objektif termasuk memahami Islam secara benar. (vivanews)

0 komentar:

Posting Komentar