
(wartaislam.com) LONDON - Para dokter serta perawat yang menganut ajaran Islam kini mendapat kelonggaran dengan diperbolehkan tetap mengenakan jilbab serta pakaian tambahan untuk lengan yang menutupi daerah tangan selama melakukan masa tugas mereka karena hal tersebut merupakan bagian dari agama mereka.
Departemen Kesehatan Inggris juga telah memberikan kelonggaran terhadap para penganut Sikh dengan memperbolehkan mereka menggunakana beberapa perhiasan yang merupakan bagian dari agama.
Harian Mail on Sunday memberitakan mengenai adanya perubahan tersebut yang diresmikan tidak lama setelah beberapa karyawan Muslim menolak untuk menunjukkan bagian lengan mereka selama bekerja di antara pasien, di bawah tuntunan yang diperkenalkan oleh Alan Johnson ketika menjabat sebagai sekretaris kesehatan pada 2007 silam.
Peraturan tersebut awalnya dibentuk karena meningkatnya jumlah pasien yang jatuh dan bahkan meninggal akibat serangga seperti MRSA dan Clostridium difficile
Dan langkah yang diambil dalam merubah kebijakan sejak bulan lalu tersebut nampaknya memberikan kelonggaran bagi beberapa penganut agama, termasuk Muslim.
Para karyawan Muslim serta penganut agama lainnya diperbolehkan mengenakan pakaian tambahan sehingga menutupi bagian tangan mereka yang tidak tertutupi oleh seragam kerja mereka yang hanya sebatas sikut.
Derek Butler, Ketua MRSA Action UK mengatakan, “Apa yang saya khawatirkan tentang kelonggaran kebijakan tersebut adalah penggunaan pakaian tambahan tersebut dapat menjadi media penyebaran virus dan penyakit ketika sang perawat memeriksa pasien dan menuju pasien lainnya.”
“Lengan yang telanjang juh lebih aman.”
Juru bicara Departemen Kesehatan mengatakan, “Kebijakan baru yang telah dirilis itu memberikan keseimbangan antara kenyamanan dalam penanganan penyakit dan penerimaan agama tanpa mengesampingkan keamanan para pasien.”
Namun kebijakan baru tersebut agaknya menyinggung seorang perawat wanita beragama Kristen bernama Shirley Chaplin yang merasa telah didiskriminasikan oleh Rumah Sakit Royal Devon dan Exeter Hospital Trust yang melarangnya mengenakan kalung salib, mengatakan bahwa salib tersebut dapat melukai pasien serta menjadi media perpindahan penyakit.
Chaplin, 55, telah diperingatkan untuk melepas kalung peraknya yang berbentuk salib, mengingat hal tersebut bukanlah merupakan dari kewajiban ajaran Kristen.
Chaplin berpendapat, “Saya tidak percaya bahwa kalung (salib) saya dapat membahayakan pasien jadi saya pikir kebijakan baru ini adalah standar ganda yang diterapkan. Namun apa yang bisa saya lakukan? Hidup serasa melawan ajaran Kristen dalam beberapa hari.”
Beberapa pemimpin dan pemuka agama Kristen, termasuk mantan Uskup Canterbury, Lord Carey, juga turut memberikan kecaman, mengatakan bahwa kebijakan tersebut merupakan langkah pemerintah dalam membebaskan agama minoritas dan membatasi agama mayoritas.
Lord Carey memberitahu Chaplin bahwa suara umat Muslim sangatlah kuat, itulah yang dikhawatirkan para politisi.
Lord Carey merupakan salah satu dintara tujuh tokoh Kristen yang menandatangani surat berisi dukungan penuh terhadap perawat Chaplin, mengatakan bahwa pemerintah telah menerapkan standar ganda.
sumber : suaramedia
0 komentar:
Posting Komentar