Said Aqil Siradj: Lebih Suka Calon Ketua Umum yang Liberal Daripada Politis

Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang akan dipilih dalam Muktamar pada Maret 2010 nanti di Makassar, harus bersih dari politik, agar NU secara institusi tidak terseret-seret ke dalam politik praktis dan pragmatisme.

Demikian diungkapkan Ketua Pelaksana Muktamar NU Prof Dr KH Said Aqil Siradj dalam diskusi Liberaliasai Pemikiran Keagamaan yang diselenggarakan F-PKB DPR bersama Ketua PBNU KH Masdar F Masudi dan anggota F-PKB DPR Prof Dr KH Ali Maschan Musa di Gedung DPR/MPR RI Jakarta, Kamis (19/11) sebagaimana dikutip Harian Pelita.

Dikatakan KH Said Aqil Siradj, sebagai organisasi keagamaan terbesar, NU harus bisa menjadi harapan dan pencerahan bagi umat dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Karena itu calon ketua umum nanti harus benar-benar bersih dari politik praktis.

Kita malah lebih cenderung memilih calon ketua umum PBNU yang berpikiran liberal, ketimbang mereka yang berfikiran politik praktis. Itu sesuai dengan khittah NU 1926, ujar Said Aqil menjelaskan.

NU harus bisa memberdayakan umat, khususnya warga NU (nahdliyyin). Pemikiran liberal selama tidak keluar dari teks, konteks dan kaidah keislaman, justru merupakan sesuatu hal yang harus terus menerus dikembangkan.

Kalau kita mempersoalkan liberalisme pemikiran keagamaan Islam, berarti merupakan bukti bahwa tidak mengetahui/memahami sejarah pemikiran Islam. Liberalisme itu sudah terjadi sejak zaman khulafaurrasyidin; Abu Bakar, Umar, Utsaman, Ali dan para ulama tabiin, ujar Said Aqil Sirajd.

Dudah tradisi

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ketua PBNU Masdar F Masudi. Calon Ketua Umum PBNU yang bersih dari politik itu merupakan suatu keharusan, agar NU tidak diseret-seret untuk kepentingan politik praktis.

Lain halnya dengan liberalisme yang di NU sudah merupakan tradisi yang mesti terus menerus dikembangkan sepanjang berdasarkan kepada Al-Quran, hadits, tafsir dan merujuk kepada kaidah para ulama, kata dia.

Bahkan diawal berdirinya NU, 30 Februari 1926 sudah terjadi perbedaan pemikiran dengan munculnya Tashwirul Afkar dan perbedaan yang tajam antara KH Hasyim Asyari dengan Syekh Yasin al-Pasuruani.

Kedua kiai itu kata Masdar, berbeda pendapat soal dibolehkannya pendidikan untuk perempuan di sekolah-sekolah dan pesantren. Mbah Hasyim membolehkannya, tapi Syekh Yasin melarangnya. Jadi, kalau tidak ada terobosan pemikiran Mbah Hasyim, tidak mungkin kaum perempuan maju seperti sekarang ini, tutur Masdar.

Liberalisasi pemikiran keagamaan itu tidak akan berhenti, kecuali dilarang berpikir. Yang jelas kata dia, jika hanya mendasarkan pada nalar murni, maka akan terjadi spekulasi-sepekulasi pemikiran. Tapi, kalau dengan pertimbangan kemaslahatan yang lebih besar, maka liberalisme akan bermanfaat daripada pemikiran fikih atau syariah yang hanya diperuntukkan bagi kepentingan diri atau kelompok tertentu.

Jadi, liberalisme pemikiran keagamaan yang positif harus terus didorong. Liberalisme nalar positif juga merupakan fikih yang harus dikembangkan. Fikih itu harus menyentuh kepentingan rakyat. Toh, hal itu sudah terjadi sejak zaman sahabat Umar bin Khattab, tutur Masdar lagi.

Ditanya, bagaimana dengan munculnya dua kelompok pemikiran keagamaan antara liberalisme dan fundamentalisme yang dipelopori anak-anak muda NU seperti Ulil Abshar Abdalla dan kawan-kawan? Baik Said Aqil Siradj maupun Masdar F Masudi menyatakan dapat memahami, karena itu pemikiran tersebut terus berkembang hingga kini.

Hanya saja kata keduanya, pemikiran kedua anak muda NU tersebut tidak pernah didialogkan secara terbuka (tabayyun). Mestinya, kata Said Aqil, konsep tabayyun itu harus dikembangkan, tapi tidak tahu mengapa justru tidak ada. Oleh sebab itu, biarkan saja bergulir secara alami dengan terus melakukan dialog intensif di internal maupun eksternal NU, sehingga pada saatnya anak muda NU memiliki tempat di struktural NU.

Padahal lanjut Said Aqil, ketika KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memimpin NU banyak pemikiran liberal yang dahsyat dan luar biasa. Anehnya tidak banyak kiai NU yang protes. Mungkin hal itu karena Gus Dur memang hebat dan banyak dibela oleh kiai-kiai yang lain. Sedangkan kedua anak muda NU itu tidak ada yang bela. Tapi, anak muda seperti itu tetap harus diberi tempat dan dirangkul, ujar dia./hidayatullah.

0 komentar:

Posting Komentar