(wartaislam.com) JEMBER - Sekelompok warga yang diduga mengikuti aliran sesat, Qodariyah wa Naqsabandiyah, berjanji membubarkan diri. Mereka juga berharap kembali ke rumah dengan jaminan keselamatan terjaga. Hingga Sabtu (27/2), 18 anggota kelompok itu masih mencari perlindungan di Mapolres Jember. Salah satu anggota, Heri, mengaku belum berani pulang ke rumahnya di Kecamatan Mumbulsari, karena takut amukan warga. Namun ia berjanji, bersama anggota lainnya akan membubarkan diri.
Sedangkan salah satu warga Desa Lampeji, Kecamatan Mumbulsari, Rosidi mengaku, warga masih belum bisa menerima kelompok tersebut jika kembali masih sebagai anggota kelompok yang diduga sesat tersebut.
“Warga masih marah, tetapi jika ada perjanjian tentunya warga mau mengerti,” ujar Rosidi.
Dalam dua hari ini, pertemuan antara pihak Polres Jember dan Muspika Mumbulsari dengan anggota kelompok itu masih diteruskan. Dari informasi yang dihimpun Surya, pekan depan, semua pihak akan membuat keputusan terkait keberadaan aliran tersebut.
Sebelumnya, ratusan warga mengepung Masjid Jamik Mumbulsari yang menjadi tempat pertemuan antara muspika, MUI dan anggota kelompok tersebut, Kamis (25/2).
Warga mengepung dengan membawa batu dan pasir untuk menghakimi anggota kelompok tersebut. Namun tindakan anarkis tidak berlanjut karena anggota kelompok itu berhasil dievakuasi ke Mapolres Jember.
Kelompok tersebut selalu mengadakan pertemuan di rumah koordinator kelompok yang bernama Yusuf alias Pak Sofi di Dusun Curah Laos, Desa Lampeji, Kecamatan Mumbulsari.
Kelompok tersebut mengaku sebagai aliran tarekat Qodariyah wa Naqsabandiyah. Namun saat ditanya siapa pemimpin atau imam tarekat tersebut, anggota kelompok itu bingung dan tidak bisa menjawab.
Beberapa ajaran dari kelompok tersebut yang didengar oleh warga sekitar adalah tidak perlu menjalankan syariat Islam seperti puasa, salat, juga tidak mengakui Nabi Muhammad SAW dan kitab suci Alquran. Kelompok tersebut mulai berkumpul di rumah Yusuf sejak tiga tahun lalu.
Warga sempat mengingatkan kelompok tersebut, namun tidak digubris. Akhirnya, kemarahan warga memuncak pada beberapa hari lalu dan hendak menghakimi anggota kelompok tersebut.
sumber : surya
0 komentar:
Posting Komentar