Pasca Tragedi Gaza, Tentara Zionis Meningkat Pesat!

TEL AVIV -Jumlah orang yang menjadi sukarelawan untuk bergabung dalam unit tempur Israel telah meningkat pesat dan mencapai angka tertinggi dalam kurun waktu 10 tahun, demikian diberitakan oleh surat kabar Israel, Yediot Aharonot.

Sebanyak 73 persen dari orang-orang yang menjalani wajib militer berkeinginan untuk bergabung dalam unit tempur, persentase tersebut naik jika dibandingkan dengan angka 67,2 persen yang dicapai pada tahun lalu, demikian tulis surat kabar tersebut.

Angka terendah yang pernah dicapai adalah 66,3 persen yang diraih pada tahun 1997 silam.

Surat kabar tersebut mengutip ucapan seorang perwira militer yang mengatakan bahwa peningkatan tersebut adalah sebuah hasil dari agresi militer yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza, dimana Israel memandang pembantaian tersebut sebagai sebuah “kemenangan”. Ditambahkan bahwa peningkatan tersebut juga berarti bahwa upaya perekrutan Israel di sekolah-sekolah telah membuahkan hasil.

Surat kabar tersebut juga mempublikasikan data statistik yang menunjukkan bahwa ada 36 persen pemuda Israel yang memutuskan untuk tidak bergabung dalam kemiliteran, sebagian besar diantaranya berasal dari kalangan Yahudi ultra-ortodoks.

Keikutsertaan dalam pasukan militer memang merupakan kewajiban bagi setiap warga Yahudi Israel. Sementara warga Arab yang merupakan 20 persen dari populasi Israel tidak diwajibkan untuk ikut serta.

Pada dekade 1980an, populasi Yahudi tidak banyak terlibat dalam kemiliteran. Seiring dengan tidak adanya stigma yang menempel pada orang-orang yang tidak bergabung dalam kemiliteran.israeli_soldiers_1

Dalam perang Gaza, Israel membantai hampir 1.400 orang warga Palestina, sebagian besar merupakan warga sipil, dan melukai 5.450 orang lainnya.

Diantara para korban yang meninggal, ada 437 orang anak-anak, 110 orang wanita, 123 orang pria tua, 14 orang tenaga medis dan empat orang jurnalis.

Diantara korban luka, ada 1.890 orang anak-anak.

Perang tersebut juga membuat ribuan rumah hancur, sementara para penghuninya menjadi tunawisma.

Israel, yang ingin menghancurkan setiap gerakan kemerdekaan Palestina, merespon kemenangan Hamas dalam pemilihan yang jujur dengan sanksi, dan nyaris memblokade secara keseluruhan kawasan miskin tersebut setelah Hamas berkuasa pada tahun 2007, meski sebelum tahun tersebut Israel juga sudah menerapkan blokade yang “lebih ringan”.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia, baik internasional maupun dari Israel sendiri, mengecam blokade yang dilakukan Israel di Gaza.

Sebuah kelompok yang terdiri dari pengacara internasional dan para aktivis hak asasi manusia, juga menuding Israel telah melakukan genosida melalui blokade terhadap Jalur Gaza.gazaidfi

Gaza tak ubahnya berada dalam penjajahan Israel karena Israel mengendalikan akses darat, laut dan udara ke Gaza.

Perbatasan Rafah dengan Mesir, satu-satunya perbatasan Gaza yang melalui Israel, amat jarang dibuka karena Mesir berada dibawah tekanan besar dari AS dan Israel untuk tetap menutup perbatasan tersebut.

Fatah tidak bisa berbuat terlalu banyak dari kawasan Tepi Barat terjajah, dan tidak pula memiliki kekuatan di Yerusalem Timur, keduanya merupakan wilayah Palestina yang secara ilegal dicaplok oleh Israel pada tahun 1967.

Selain itu, Israel juga menjajah kawasan pertanian Shabaa milik Libanion dan juga Dataran Tinggi Golan di Syria./suaramedia.

0 komentar:

Posting Komentar