SEOUL– Korea Utara telah mengembangkan kemampuan para pasukan operasi khususnya secara besar-besaran, menyekolahkan mereka dan mengadopsi penggunaan bom pinggir jalan seperti yang biasa ditemui di Irak dan membekali mereka dengan kemampuan untuk menyelinap melalui perbatasan kokoh yang memisahkan Korea Utara dan Selatan. Dengan semakin mengembangkan pasukan yang sejatinya sudah merupakan pasukan operasi khusus terbesar di dunia, Korea Utara tampaknya semakin mempertajam taring komandonya dalam strategi pertahanan militer.
Pemerintahan Kim Jong Il yang dilanda kesulitan keuangan, dan harus berjuang untuk dapat membeli bahan bakar guna menggerakkan tank tua serta memelihara perlengkapan tempur usang mereka telah menarik kesimpulan bahwa pihaknya tidak dapat memenangkan sebuah perang konvensional, demikian kata para pejabat militer AS dan Korea Selatan.
Namun dengan mengkombinasikan pasukan khusus dalam jumlah besar dengan artileri yang dapat meluluhlantakkan Seoul, serta peluru kendali yang dapat menyapu bersih seluruh kawasan Korea Selatan, Korea Utara telah menemukan sebuah cara “murah meriah” untuk tetap dapat menakut-nakuti, memastikan keselamatan rezim dan menghalau serangan terhadap fasilitas bom nuklir yang membuat Korea Utara disegani di kancah dunia, kata para analis AS dan Korea Selatan.
“Korea Utara telah melakukan apa yang harus mereka lakukan untuk memastikan bahwa kekuatan militer mereka masih merupakan sebuah ancaman besar,” kata Bruce E. Bechtol Jr., seorang pakar Korea Utara yang merupakan seorang profesor di Komando Militer Marinir, sekaligus seorang pelatih militer di Quantico. “Mereka masih mampu menimbulkan puluhan ribu korban sipil di Seoul pada hari pertama jika benar-benar terjadi perang.”
Potensi dari pasukan khusus Korea Utara untuk menimbulkan malapetaka telah semakin berkembang seiring dengan meningkatnya jumlah pasukan mereka dan pergeseran taktik dengan mengadaptasi taktik yang dikembangkan oleh para gerilyawan di Irak dan Afghanistan, kata Jenderal Walter Sharp, komandan pasukan AS di Korea.
“Kemampuan mereka benar-benar amat besar, dan mereka akan mendayagunakan taktik seperti itu,” kata Sharp kepada para wartawan yang menemuinya di Washington.
Jika terjadi sebuah konflik, maka puluhan ribu orang anggota pasukan keamanan Korea Utara akan mencoba menyusup masuk ke Korea Selatan, dengan mempergunakan pesawat kuno untuk menghindari radar, melalui terowongan rahasia bawah tanah yang berada di bawah zona bebas militer Korea, dan melalui kapal selam serta hovercraft (kapal amphibi), demikian kata para analis Korea Selatan dan AS.
Dengan menyamar dan mengenakan seragam polisi dan tentara Korea Selatan, pasukan khusus Korea Utara juga dapat mencoba masuk ke Seoul. Dengan berpakaian sipil, para pasukan khusus juga bisa masuk sebagai penumpang pesawat dari Beijing dan ibukota negara asing lainnya.
“Mereka (pasukan khusus) bukanlah orang-orang Korea Utara pada umumnya,” kata Bechtol. “Mereka telah menerima pelatihan terbaik, asupan makanan yang terbaik dan otak yang telah terdoktrin. Mereka tahu benar cara bertempur, dan jika mereka sampai tertangkap, maka mereka sudah dilatih untuk melakukan bunuh diri.”
Misi utama mereka, jika sampai pecah perang Korea, adalah untuk melompati zona bebas militer dan menciptakan kekacauan diantara penduduk sipil Seoul yang berjumlah 20,5 juta orang, sembari menyerang pasukan Korea Selatan dan AS dari belakang, kata para pakar militer dan intelijen.
Sudah 41 tahun berselang sejak Korea Utara menggalang sebuah penyerbuan komando di dalam wilayah Korea Selatan, namun Korea Selatan dipaksa untuk merespon terhadap sebuah ancaman lama yang berkedok baru.
Tentara Korea Selatan berupaya untuk meningkatkan mobilitas dari pasukan infantri garis depannya dan telah membatalkan rencana untuk mengurangi unit pasukan cadangan. Korea Selatan telah memutar balik pemindahan komando perang dari sebelah selatan Seoul dan memulai langkah untuk membeli pesawat angkut untuk mengirimkan pasukan khusus ke dalam wilayah Korea Utara.
Angkatan laut Korea Selatan telah diperintahkan untuk menggeser fokus utamanya, dari patroli mengelilingi lautan menjadi mempertahankan wilayah pantai dari serangan komando, menurut Kim Jong-dae, yang merupakan editor majalah militer di Seoul dan hingga tahun 2007 merupakan penasihat kebijakan kementerian pertahanan. Pemerintah Korea Selatan sendiri menolak untuk memberikan komentar mengenai perintah angkatan laut tersebut.
Korea Selatan dan AS setuju bahwa jumlah pasukan khusus Korea Utara meningkat jauh, namun mereka tidak mencapai kata sepakat mengenai berapa banyak jumlah pasukan tersebut.
Jumlahnya kini mencapai 180.000 orang, menurut Kementerian Pertahanan Korea Selatan. Jumlah tersebut meningkat 50 persen sejak dilakukan penghitungan resmi tiga tahun yang lalu. Namun Sharp, komandan AS di Korea Selatan, menyebutkan angka yang lebih kcil: 80.000 (Meski angka tersebut masih jauh lebih besar dibandingkan dengan negara manapun, termasuk AS, yang hanya memiliki 51.000 orang).
Sebagian besar perbedaan tersebut tampaknya berada seputar definisi pasukan khusus. Korea Utara telah melatih ulang dan membentuk ulang sekitar 60.000 orang pasukan infantri dan menjadikannya pasukan khusus, hal itu dilakukan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, kata Korea Selatan. AS setuju bahwa hal itu memang telah terjadi, namun AS tidak menghitung 60.000 oran gtersebu sebagai pasukan khusus, kata Mayor Todd Fleming, juru bicara pasukan AS di Korea Selatan.
Berapapun jumlahnya, AS dan Korea Selatan sepakat bahwa pasukan khusus Korea Utara memang bertambah kuat. Sharp menyebut pasukan khusus Korea Utara sebagai pasukan yang “tangguh, terlatih dan amat loyal.” Mereka juga mampu melakukan berbagai kegiatan melanggar hukum, mata-mata dan penyerangan infrastruktur sipil serta target militer di kawasan Asia Timur.
Latihan “murah meriah” Korea Utara tersebut diantaranya termasuk: latihan melempar pisau, menembakkan panah beracun dan berlari menaiki bukit curam dengan membawa ransel yang dipenuhi dengan batu dan pasir seberat 27 kilogram, kata Ha Tae-jun, seorang mantan komando Korea Selatan. Mereka juga dilatih untuk melakukan perang jalanan, serangan senjata kimia, pertempuran malam hari, pertarungan tangan kosong, pencurian mobil dan bahkan mempergunakan sendok dan garpu sebagai senjata.
Pasukan Korea Selatan dan AS telah mulai melakukan latihan khusus dalam beberapa tahun terakhir untuk menangkal taktik baru Korea Utara, termasuk penggunaan bom pinggir jalan yang diadopsi dari para pejuang Islam dalam konflik di Irak dan Afghanistan. Para staf dari Pusat Pelatihan Militer dari Fort Leavenworth, Kansas, didatangkan ke Korea untuk membantu mempersiapkan para prajurit akan adanya ancaman baru./suaramedia.
0 komentar:
Posting Komentar