Di Indonesia, Kewibawaan Ulama Mulai Hilang

SEMARANG- Saat ini banyak ulama yang tidak lagi diindahkan petuahnya. Dibandingkan dengan zaman dulu, ulama sekarang banyak yang sudah kehilangan kepercayaan diri. "Sekarang, omongan kiai saja bahkan kadang tidak "digugu" (ditanggapi dan ditaati)," kata Menteri Agama (Menag), M Maftuh Basyuni, saat membuka seminar Nasional Ma'had Aly di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Semarang, Selasa (6/10).

Hal itu terjadi disebabkan Indonesia telah banyak kehilangan ulama besar. Selain karena kaderasisasi yang tidak berjalan baik, kader-kader kiai pada saat ini belum bermunculan.

Sehingga, tegas dia, proses pengkaderan lahirnya kiai harus terus ditingkatkan. Dalam hal ini, dengan mengoptimalkan peran pesantren sebagai pusat kaderisasi ulama. "Misalnya mengajak santri sebagai subjek belajar untuk mau belajar kitab-kitab yang bertaraf tinggi," katanya.

Gencarkan pendidikan

Mendesaknya adanya ulama yang kompeten, akhirnya mendorong Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) meluncurkan program kaderisasi 1.000 ulama, melalui program peningkatan jenjang pendidikan dan penambahan ilmu bagi para ulama. Program ini sudah berjalan dua tahun terakhir ini.

"Salah satu tugas utamanya menangkal penyebaran aliran sesat," kata Direktur Eksekutif Baznas, Emmy Hamidiyah, beberapa bulan silam.

Program yang bekerja sama dengan Dewan Dakwah Islam Indonesia ini diharapkan mampu mencetak ulama dengan kualifikasi 200 doktor di bidang tafsir, hadist, syariah, pendidikan Islam, sejarah Islam, perbandingan agama, bahasa dan sastra Arab, politik Islam, dan pemikiran Islam.

Sementara itu, Salah satu sesepuh kaum liberal negeri ini, Djohan Effendi, merasa pesimistis akan terwujudnya kebebasan beragama di Indonesia. Hal itu disampaikannya pada acara peluncuran dua buku barunya, yang sekaligus perayaan ulang tahun Djohan yang ketujuh puluh, di Wisma Serbaguna, Gelora Bung Karno, Jakarta.

“Merayakan kebebasan beragama di Indonesia masih jauh. Belum saatnya,” ujar Djohan mengomentari judul buku barunya “Merayakan Kebebasan Beragama”. Buku lainnya yang diluncurkan malam itu, biografi Djohan berjudul “Sang Pelintas Batas”.

Djohan mengatakan, tantangan pluralisme dan kebebasan beragama begitu besar. Tantangannya, kata Djohan, bukan hanya bersifat verbal, tapi juga fisik.

Perusakan rumah ibadah pengikut ajaran nabi palsu Ahmadiyah, menjadi contoh kasus yang diangkat Djohan malam itu. Dia juga membacakan surat para pengungsi Ahmadiyah kepada Walikota Mataram, yang disebutnya sebagai jeritan hati.

Usai acara, hidayatullah.com sempat bertanya kepada Djohan, apakah dia pesimistis soal terwujudnya kebebasan beragama dan paham pluralisme di Indonesia? “Iya. Kalau hukum belum ditegakkan, ya, seperti itu,” katanya.

Djohan mengaku tidak bisa mengira kapan impiannya itu akan terjadi. Dia juga pesimistis hal itu bisa diwujudkan oleh Presiden dan Wakil Presiden terpilih saat ini. Namun Djohan tidak menampik dirinya berharap masih hidup di dunia untuk menyaksikan cita-citanya itu.

Sejumlah tokoh hadir dalam acara tersebut, seperti Abdurrahman Wahid, para tokoh berbagai agama, semisal HS Dillon, Frans Magniz Suseno, dan sejumlah biksu. Aktivis-aktivis liberal seperti Musdah Mulia dan Nong Darol Mahmada juga tampak hadir.

Sebelumnya, acara yang diprakarsai Indonesian Conference on Religion and Peace ini juga menggelar jumpa pers. Mereka membacakan rekomendasi hasil Konferensi Nasional Lintas Agama ICRP yang berlangsung pada 5-6 Oktober 2009. Isinya adalah tuntutan agar pemerintah meninjau ulang perda-perda berbau syariah di negeri ini./suaramedia.



0 komentar:

Posting Komentar