Al Qaeda Serukan Jihad Remukkan Komunis China

BEIJING– Seorang tokoh terkemuka Al Qaeda mendesak kaum Muslim Uighur di Xinjiang untuk membuat persiapan perang suci secara serius terhadap penindas China dan menyerukan kepada sesama Muslim untuk menawarkan bantuan.

Abu Yahya al-Libi, dalam sebuah rekaman video yang dipajang di situs internet pendukung Al Qaeda, pada hari Rabu (7/10) memperingatkan China bahwa pemerintahan Komunis tersebut akan mengalami nasib yang serupa dengan bekas negara superpower komunis yang dulu berjaya, Uni Soviet, yang hancur berkeping-keping pada dua dekade yang lalu.

“Pemerintahan atheisme tengah menuju jalan kehancuran. Pemerintahan tersebut akan menghadapi hal serupa yang membuat beruang Rusia (Uni Soviet) jatuh tersungkur,” katanya dalam sebuah pesan. Ia juga mengatakan bahwa China telah melakukan pembantaian terhadap Muslim Uighur dan mencoba menghilangkan identitas mereka.

Pasukan militer Soviet menginvasi Afghanistan pada tahun 1979 untuk mencoba mendirikan pemerintahan Marxist dan melawan para pejuang Islam, namun Soviet ditaklukkan oleh perang gerilya dan terpaksa menarik diri pada tahun 1988-1989. Al Qaeda muncul dari kelompok-kelompok yang bertempur dengan pasukan Soviet kala itu.

Etnis Uighur adalah penduduk asli dari propinsi Xinjiang, yang disebut pula dengan Turki/Turkistan Timur, dan memiliki keterkaitan budaya dengan orang-orang Turki di Asia Tengah.

“Tidak ada cara untuk menyingkirkan ketidakadilan dan penindasan tanpa adanya gerakan sejati unuk kembali kepada agama mereka (Uighur) dan persiapan serius untuk melaksanakan Jihad pada jalan Tuhan yang maha kuasa dan mengangkat senjata guna menghadapi para penjajah (China),” katanya.

“Adalah sebuah tugas bagi kaum Muslim untuk mendukung dan mendampingi para saudara mereka yang terluka dan tertindas di Turkistan Timur dan memberikan dukungan dengan segenap kemampuan masing-masing,” kata Libi.

Dia juga menuding China telah mempergunakan cara-cara setan guna menekan kaum Muslim di propinsi tersebut dan menggantikan keberadaan mereka dengan etnis lain sembari menjarah kekayaan mereka dan mengikis kebudayaan dan agama mereka.

Pemerintah China yang berpusat di Beijing tentu tidak ingin kehilangan pegangan terhadap Xinjiang yang terletak jauh di sebelah barat. Wilayah kaya tersebut berbatasan dengan Rusia, Mongolia, Kazakhstan, Kyrgyztan, Tajkistan, Afghanistan, Pakistan dan India. Kawasan tersebut mengandung cadangan minyak yang melimpah dan merupakan wilayah produsen gas alam terbesar di China.

Libi mengatakan bahwa umat Muslim di seluruh dunia harus membuka mata dan menyadari situasi yang melanda etnis Uighur di China.

“Secara turun temurun, pemerintahan China telah bekerja keras untuk menghancurkan setiap keterkaitan antara orang-orang Turkistan yang terluka dengan negara Muslim,” katanya.

“Mereka (China) menerapkan (kebijakan) untuk kematian dan penghancuran sehingga jumlah (Muslim Uighur) akan terus berkurang dan identitas keislamannya akan tergerus.”

Pada bulan Agustus silam, pemimpin dari sebuah kelompok yang menamakan diri sebagai Partai Islam Turkistan (TIP) mendesak umat Muslim untuk mematahkan kepentingan-kepentingan China dan menghukum Beijing atas peristiwa pembantaian etnis Muslim Uighur.

TIP, yang telah mengklaim bertanggungjawab atas peristiwa kekerasan yang terjadi di masa lalu, telah meluncurkan serangan dan menuding China telah melancarkan pembantaian secara barbar terhadap umat Muslim Xinjiang.(Video)

Propinsi tersebut menjadi saksi bisu dari timbulnya gelombang kekerasan pada bulan Juli silam, ketika etnis Uighur melakukan serangan balasan terhadap etnis China Han di Urumqi, ibukota propinsi Xinjiang, setelah polisi berupaya untuk membubarkan unjuk rasa damai yang digelar dalam rangka menentang peristiwa serangan brutal terhadap para pekerja Uighur di sebuah pabrik di sebelah selatan China. Click Video./suaramedia.



0 komentar:

Posting Komentar