Isu Keterkaitan Kompak dengan Teroris Ditanggapi Dingin Syuhada Bahri


Dugaan keterlibatan Kompak (Komite Penanggulangan Krisis) yang dilontarkan Kasubden Intelijen Densus 88 Kombes Tito Karnavian saat Mabes Polri membeberkan isi laptop Noordin M. Top Selasa 29/09 ditanggapi dingin oleh Ketua Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia Syuhada Bahri.

“Saya tahu berita itu tapi kita cenderung tidak menanggapi karena itu hal yang sensitif Sukutu indal fitnah awlaa” (diam dikala terjadi fitnah lebih baik), kita tidak mau terpancing” ungkap Syuhada .

Menurut Syuhada Kompak sendiri sudah dinyatakan bubar semenjak peristiwa konflik berdarah di Ambon pada tahun 1999. “kompak sendiri sudah tidak ada, terakhir peristiwa ambon dulu, kompak itu kaitannya dengan musibah dan konflik itu cuma sesaat, tidak ada organisasi terstruktur disana”ungkap Syuhada.

Syuhada mengharapkan umat jangan terpancing dengan isu teroris ini karena wilayah ini amatlah sensitif “untuk wilayah sensitif yang disampaikan kepada publik umat diharapkan untuk jangan terapncing, kalau tidak cukup bukti nanti redam sendiri” pesan Syuhada

Komite Penanggulangan Krisis (Kompak), sebuah lembaga yang didirikan DDII untuk menyalurkan bantuan dari negara-negara Timur Tengah ke sejumlah kawasan krisis dan konflik di Indonesia. Kompak banyak membantu korban-korban konflik di daerah-daerah seperti Ambon, Poso, Aceh, dan Timor Timur.

Seperti yang dikutip jawapos.co.id Rabu 30/09 Kasubden Intelijen Densus 88 Kombes Tito Karnavian menjelaskan, ada beberapa organisasi yang mendukung gerakan Noordin, di antaranya organisasi yang di­sebut Mujahidin Kompak.

"Kom­pak itu awalnya Komite Penanggu­langan Krisis di Ambon, tapi beberapa oknumnya ternyata gemas dan sebal dengan kejadian yang ada dan menjadi pendukung Noordin," kata Tito. Namun, katanya jumlah oknum Kompak sekarang semakin sedikit. "Kompak itu old times (masa lalu). Nah, yang baru itu JAT," kata Tito.

M.Yasin.

0 komentar:

Posting Komentar